Categories
Business Marketing

IdeaUpdate: Video Games & Out-of-The-Box Marketing Stunt

Game memiliki pangsa pasar sangat besar. Peluang ini membuat developer bersemangat menciptakan game keren dengan ide yang unik dan segar.
.
Untuk menangkap perhatian target audiens nya, ternyata tak hanya ide saja yang perlu out-of-the-box, namun teknik memasarkannya pun harus luar biasa dan terkadang sedikit gila.
.
Berikut beberapa teknik marketing video game terunik di dunia. Bahkan, salah satunya bikin gempar satu negara! Yuk, simak selengkapnya di IdeaUpdate!

Categories
Digital Marketing Marketing Strategy

Berbagai Contoh Campaign Guerilla Marketing yang Unik

Guerrila Marketing adalah sebuah strategi pemasaran dengan menggunakan ide yang kreatif untuk menimbulkan dampak yang besar dengan biaya pemasaran yang lebih rendah. Strategi ini tentunya banyak digunakan oleh para pebisnis-pebisnis atau usaha dengan skala yang kecil agar mereka bisa bersaing dalam kompetisi dengan perusahaan-perusahaan yang besar. (meetechno.com)
Berikut contoh-contoh campaign yang menggunakan strategy Guerilla Marketing yang unik.

1. UNICEF Finland, ‘Be a mom for a moment’

sumber : http://www.adsoftheworld.com/media/ambient/unicef_mom

UNICEF Finland ingin menyebarkan kesadaran tentang hak asasi anak-anak. Mereka menempatkan beberapa keranjang bayi di tempat-tempat yang sering dilewati orang dan memainkan audio bayi menangis dari dalam keranjang bayi tersebut. Orang-orang yang lewat akan mengecek isi keranjang bayi tersebut tapi mereka akan menemukan note di dalamnya yang tertulis “Terima kasih sudah peduli. Kami berharap ada banyak orang yang peduli seperti Anda. UNICEF ‘Be a mom for a moment’”.

2. Kampanye Film IT (2017)

Film remake ini melaksanakan kampanye guerrilla mereka dengan cara mengikatkan balon-balon merah di atas saluran air untuk menarik perhatian para pejalan kaki. Maksud dari balon merah yang diikatkan di atas saluran-saluran air tersebut untuk mengingatkan orang-orang tentang adegan menyeramkan dari film IT tahun 1990, dimana seorang tokoh bernama Georgie diserang oleh badut Pennywise dan ditarik ke bawah saluran air. Otomatis, para pejalan kaki langsung teringat oleh adegan menyeramkan itu ketika melihat balon-balon merah ini.

sumber : https://twitter.com/DianaDJ7/status/904469882716135424/photo/1?ref_src=twsrc%5Etfw&ref_url=https%3A%2F%2Fwww.smartcompany.com.au%2Fmarketing%2Fawesomely-creepy-marketing-campaign-for-it-horror-movie-takes-sydney-streets-storm-can-business%2F

Di dekat display balon merah pun diletakkan tulisan “IT lebih dekat dari yang kamu kira, #ITMOVIE akan tayang 7 September”. Para pejalan kaki yang melewati jalan ini pun akan mengambil foto lalu menyebarkan kampanye ini dengan hashtag ‘#ITMOVIE’ di social media.

3. Tengkorak Naga Raksasa di Pinggir Pantai untuk Promosi Game of Thrones

Untuk mempromosikan season ketiga serial TV Game Of Thrones, BlinkBox membangun sebuah patung tengkorak naga raksasa di pinggir pantai di Dorset, Inggris, untuk menyebarkan awareness tentang serial TV ini.

Sumber : http://www.creativeguerrillamarketing.com/guerrilla-marketing/giant-dragon-skull-washes-up-on-beach-promoting-game-of-thrones/

4. Kereta Api Indonesia

Kereta Api Indonesia membuat kampanye guerrilla untuk menyebarkan kesadaran tentang bahaya melintasi gerbang pembatas rel kereta. Dengan mengubah gerbang pembatas menjadi bentuk pisau dengan tulisan “Jangan Nekat Kalau Mau Selamat”, banyak pengendara yang akhirnya tidak melintasi gerbang pembatas rel dan menunggu kereta lewat dengan sabar.

Sumber : http://inagorillacostume.com/2011/indonesian-railways-knife-railway-gate-guerrilla-marketing/

Sumber :
https://www.smartcompany.com.au/marketing/awesomely-creepy-marketing-campaign-for-it-horror-movie-takes-sydney-streets-storm-can-business/
http://inagorillacostume.com/2011/indonesian-railways-knife-railway-gate-guerrilla-marketing/
https://blog.hubspot.com/marketing/guerilla-marketing-examples

Categories
Digital Campaign Digital Marketing Marketing Strategy Technology

Word Of Mouth Advertising : Strategi Pedang Bermata Dua

Saat kita sedang bersantai di kamar dan melihat-lihat post teman-teman kita di sosmed tentang tempat-tempat yang lagi happening atau makanan yang sedang marak muncul di insta story teman-teman kita (ya, ayam geprek) pasti kita akan jadi penasaran. Kenapa sih tempat ini lagi populer? Atau memangnya ayam geprek itu seenak itu kah?

Kotler & Keller (2007) mengemukakan bahwa Word of Mouth Communication (WOM) atau komunikasi dari mulut ke mulut merupakan proses komunikasi yang berupa pemberian rekomendasi baik secara individu maupun kelompok terhadap suatu produk atau jasa yang bertujuan untuk memberikan informasi secara personal. Saluran komunikasi personal word of mouth tidak membutuhkan biaya yang besar karena dengan melalui pelanggan yang puas, rujukan atau referensi terhadap produk hasil produksi perusahaan akan lebih mudah tersebar ke konsumen-konsumen lainnya (Kotler & Keller, 2007).

Strategi pemasaran ini bisa dikatakan sebagai suatu bentuk strategi memasarkan produk yang paling tradisional tapi paling efektif. Kalau kita lihat di jaman sekarang, strategi ini diadaptasi dan diterapkan untuk memasarkan produk lewat social media. Dengan menyebarnya hal-hal yang viral atau dengan diuploadnya post-post berisi rekomendasi dari endorser, informasi sebuah produk bisa lebih cepat untuk disebarkan. Lantas, apakah semudah itu jaman sekarang untuk memasarkan sebuah produk dan apakah produk-produk yang di endorse memang memuaskan konsumen?

Memang, kalau produk yang kita pasarkan memuaskan konsumen pasti akan tersebar informasi-informasi bagus atau Word Of Mouth yang baik tentangnya, baik lewat obrolan atau lewat social media. Tapi, bagaimana kalau produk yang kita pasarkan tidak sesuai dengan ekspektasi konsumen? Word of Mouth yang buruk bisa tersebar dan produk yang dipasarkan tidak akan dikonsumsi atau dibeli lagi. Strategi Word Of Mouth bisa dikatakan ‘pedang bermata dua’.

Jadi, apa yang sebaiknya kita lakukan untuk menghindari tersebarnya Word of Mouth yang buruk? Di jaman social media seperti sekarang ini, sebaiknya kita lebih memonitor cara kita dan cara endorser kita memasarkan produk. Mulai dari mengiklankan produk secara tidak berlebihan dan sesuai ekspektasi konsumen dan juga memilih endorser yang sesuai dengan soul brand. Kita harus selalu ingat kalau di internet, informasi bisa tersebar dalam hitungan detik dan akan susah untuk dimonitor sehingga, sebagai seorang komunikator atau representasi dari sebuah produk sebaiknya kita lebih berhati-hati dalam mengkomunikasikan produk atau brand kita ke konsumen.

Sumber :
https://yourbusiness.azcentral.com/impact-negative-word-mouth-9567.html
http://www.pendidikanekonomi.com/2012/07/pengertian-komunikasi-word-of-mouth-wom.html

Categories
Brand Campaign Branding Marketing Strategy

Branding Lessons from Bobbi Brown

Apakah kamu familiar dengan nama Bobbi Brown? Oh, bukan. Bukan penyanyi yang menyanyikan “Every Little Step” itu. Bobbi Brown (Cosmetics) adalah sebuah brand kosmetik yang juga merupakan nama asli dari foundernya, Bobbi Brown. Bobbi Brown merupakan seorang makeup artist profesional yang berasal dari Amerika.

Sebagai seorang entrepreneur, Bobbi Brown telah membentuk sebuah cult terhadap brand kosmetiknya yang berkonsep natural seperti filosofi yang dimiliki Brown: “Women want to look and feel like themselves, only prettier and more confident.”

Berdiri dari tahun 1991, Bobbi Brown tidak secara gampang dan ajaib menjadi salah satu brand kosmetik pilihan para beauty enthusiast. Brown menghabiskan banyak waktu untuk berkomunikasi dengan orang, memahami keinginan mereka dan apa yang mereka cari dari sebuah kosmetik. Dengan begitu, Brown mampu menyediakan produk yang mereka kagumi dan bicarakan.

Bagaimana cara Bobbi Brown membuat orang-orang mencintai brand-nya? Yuk, simak.

1. Bagaimana mengetahui hal yang spesial dari brand-mu.

Bobbi Brown memiliki konsep natural, bertolak belakang dengan alasan mengapa terciptanya makeup. Menurutnya, terlihat cantik bukan berarti harus menggunakan riasan smoky eyes dan bibir yang merah. Sedikit eyeliner, foundation, dan lipstick berwarna natural bisa membantu membuat wanita merasa percaya diri. Lalu mengapa para wanita atau beauty enthusiast memilih Bobbi Brown? Seperti filosofi yang dipercaya oleh Brown: Wanita hanya ingin terlihat dan merasa seperti dirinya sendiri, hanya lebih cantik dan percaya diri. Tentunya konsep makeup natural ini cocok bagi mereka. Tetaplah yakin terhadap kepercayaanmu walaupun bertolak belakang dengan konsep kebanyakan yang ada saat ini. Itu lah yang membuat brand-mu spesial.

2. Mencari costumer yang ideal.

Mungkin ini terdengar ‘kolot’, tetapi Brown tidak suka mengeluarkan banyak biaya untuk menggunakan marketing tools berbayar. Brown lebih suka bepergian kemana-mana untuk menanyakan apa yang diinginkan setiap orang. Itu lah yang membuat Brown dapat mendapatkan costumer yang ideal bagi brand-nya. Mendengarkan keluhan dan keinginan mereka secara langsung.

3. Tips untuk menumbuhkan customer tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.

Ketika New York Fashion Week pertama digelar, Brown mendapatkan dukungan dari teman dan kerabatnya. Brown menyadari bahwa teman dan kerabatnya bisa membantunya dalam memasarkan brand-nya. Dia mengundang beberapa teman, model, dan editor ketika launching lipstiknya untuk kali pertama. Hasilnya pun membuktikan bahwa teman, temannya teman, dan orang-orang terdekat mereka dapat membentuk suatu kumpulan customer tanpa batas.

Itulah yang dilakukan Bobbi Brown dalam menumbuhkan brand-nya hingga sampai menjadi pilihan teratas beberapa beauty enthusiast dan para wanita. Bagaimana denganmu? Apa yang sudah kamu lakukan untuk brand-mu?

Sumber:
https://www.forbes.com/sites/jaynacooke/2017/10/17/from-the-inside-out-bobbi-brown-on-entrepreneurship-beauty-and-health/5/#42fbbf174734
https://www.entrepreneur.com/article/303476
https://michiganavemag.com/bobbi-brown-on-her-midwest-upbringing-and-latest-ventures
https://hbr.org/2014/10/bobbi-brown

Categories
Digital Campaign Marketing Strategy Social Media

Marketing Lessons from Game of Thrones

“Winter is coming”. Terdengar familiar? Ya, tentunya penggemar serial televisi drama fantasi Game of Thrones tidak asing dengan kutipan tersebut. Kalian pasti tidak sabar untuk menunggu season terbaru serial televisi ini, ‘kan? Termasuk Saya. Okay, before we’re totally geeking out, let’s learn something from this tv series. Sambil menunggu season 7 yang baru akan dimulai bulan Juli nanti, mari kita mempelajari beberapa marketing lesson dari Game of Thrones.

Bisnis marketing saat ini kurang lebih mirip dengan apa yang terjadi dalam storyline Game of Thrones. Perusahaan saling ‘berkelahi’ untuk memperjuangkan perhatian dari audiens. Gagal menyesuaikan marketing dengan perubahan perilaku pelanggan bisa menjadi kehancuran bagi bisnis Anda. Lalu, bagaimana cara bertahan dalam medan perang dunia perbisnisan ini?

1. Loyalitas adalah kunci.
Varys menjelaskan dua prinsip yang membimbing kebanyakan orang di Westeros: “Those who are loyal to the realm, and those who are loyal only to themselves.” Dunia Westeros didasarkan pada satu fakta sederhana bahwa setiap orang pasti setia kepada sesuatu ataupun pihak tertentu.

Loyalty is the key to win

‘Memenangkan’ seseorang, apakah itu subscriber, pelanggan, ataupun sekutu yang kuat di King’s Landing hanyalah permulaan. Aliansi bisa bergeser dalam sekejap mata, yang berarti Anda harus terus berupaya mempertahankan loyalitas dari pihak-pihak yang mendukung Anda. Perhatikan pelanggan dengan memberi mereka apresiasi seperti diskon khusus, undangan VIP, atau bahkan hanya sekedar ucapan “terima kasih”. Seperti yang sebelumnya Saya bahas di sini bahwa loyalitas dapat menjadi salah satu marketing tool yang paling efektif untuk bisnis Anda.

2. Melawan untuk bertahan.

“All men must die”

‘Valar Morghulis’ yang artinya ‘all men must die,’ tentunya tidak secara harfiah bermakna Anda harus ‘mematikan’ para kompetitor. Apapun industri yang Anda geluti, tentunya Anda dan para kompetitor akan bersaing memenangkan audiens yang sama. Jadi untuk benar-benar menonjol, Anda harus berani, berani, dan berani. Melakukan sesuatu yang berbeda dan orisinil akan membantu Anda menghadapi orang-orang yang (mungkin) senang melihat Anda gagal, karena Anda memiliki inisiatif dan keberanian untuk melakukan sesuatu secara berbeda.

3. Selalu tepati janji Anda.
Plot Game of Thrones berkisar pada janji-janji seperti: Brienne yang berjanji untuk melindungi anak perempuan Catelyn; Khaleesi berjanji untuk membebaskan para budak; dan Arya Stark yang memiliki misi untuk membalaskan dendam keluarganya. Pelajaran yang bisa kita ambil? Jika Anda membuat janji kepada audiens, sebaiknya Anda menepatinya.

“A promise made is a promise kept”

Seperti Lannisters : ” A Lannister always pays their debts “, bisnis Anda pun demikian. Penilaian dan pandangan pembeli terhadap Anda dibentuk oleh janji yang Anda buat, dan terlepas dari apakah Anda memutuskan untuk menindaklanjutinya atau benar-benar menepatinya. Pemahaman tersebut sangat penting untuk memenangkan dan mempertahankan kepercayaan pelanggan. Jadi, buatlah marketing campaign yang memberikan pesan yang konsisten dan pelanggan tahu apa yang mereka harapkan.

Itulah beberapa pelajaran yang dapat Anda (khususnya marketer) ambil dari Game of Thrones. So, the last takeaway is: Don’t be a “know nothing” like Jon Snow. Please, don’t.