Pentingnya Soft Selling Tanpa Mengabaikan Hard Selling


Di dunia pemasaran, kita sering mendengar istilah soft selling dan hard selling. Namun, sebagian dari kita mungkin belum mengetahui lebih dalam mengenai teknik pendekatan pemasaran ini, kapan harus menggunakan soft selling, dan kapan harus menjual secara hard selling.

Idea@work – Pentingnya Soft Selling Tanpa Mengabaikan Hard Selling. #blogspot
Pentingnya Soft Selling Tanpa Mengabaikan Hard Selling

Hard selling merupakan cara kita dalam memberikan pesan penjualan dan berpromosi secara langsung kepada konsumen. Yakni dengan memasang iklan lewat media cetak atau elektronik, memasang banner, atau menggunakan sales promosi. Lawannya adalah soft selling, dimana kita berpromosi secara halus dan lebih menekankan kepercayaan dan hubungan kuat kepada konsumen.

Pada hard sell, keputusan pembelian dari konsumen diambil berdasarkan pertimbangan rasional (otak), sehingga pesan harus langsung diarahkan pada manfaat atau keuntungan produk dari sebuah brand. Sedangkan dalam soft sell keputusan pembelian konsumen dilakukan berdasarkan perasaan (hati).

So, which one is better, hard sell or soft sell? Kedua teknik penjualan ini punya plus minus. Pilihan yang terbaik adalah dengan menggunakan keduanya bersamaan dengan komposisi dan waktu yang berbeda. Lalu, bagaimana kita memadukan kedua teknik ini pada rencana pemasaran kita? Ini caranya, simak ya!

1. Ketika bisnis kita di tahap awal
Saat bisnis baru berjalan, sebaiknya gunakan adalah soft selling. Tujuannya adalah untuk mengembangkan kesadaran konsumen akan brand dan mendapatkan hati mereka. Buatlah iklan atau postingan pada semua channel yang dikemas halus, menyentuh emosi konsumen, lebih humanis, serta memberikan nuansa humor, kehangatan, keramahan, atau kasih sayang.

2. Ketika bisnis sudah mulai berjalan
Setelah dirasa terjadi interaksi yang cukup maksimal dan sudah banyak konsumen yang mengenal brand Anda, maka hard selling-lah yang harus dilakukan. Jangan lupa untuk menyiapkan konsep dan konten yang matang pada iklan hard sell agar lebih maksimal.

3. Ketika bisnis kita ditahap selanjutnya
Brand-mu sudah dikenal secara luas, dan semakin banyak konsumen mengenal dan dekat dengan brand, maka komposisi soft selling dan hard selling dapat kita ubah dan sesuaikan. Jika sebelumnya komposisi yang digunakan adalah soft 80% dan hard 20%, maka sekarang bisa dikombinasikan secara 50%-50%.

Jika diamati, hard selling dan soft selling berbeda efeknya kepada konsumen. Kalau hard sell, lebih bersifat cepat atau istilahnya “take it or leave it!”. Soft sell biasanya berlangsung lebih lama dan harus dijalankan secara terus menerus. Begitu konsumen memiliki hubungan erat dengan brand, maka dia akan menjadi konsumen potensial. Dari kedua pendekatan penjualan ini, kuncinya yang utama adalah kenali target market.

Masih kebingungan dan ragu untuk mengkombinasikan kedua teknik pemasaran ini? Jangan sungkan untuk menghubungi dan berkonsultasi dengan kami untuk lebih lanjut!

 

(Dari berbagai sumber)


2 responses to “Pentingnya Soft Selling Tanpa Mengabaikan Hard Selling”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.