Categories
Digital Campaign Facebook Social Media Twitter

Social Media Officer di Balik Sebuah Akun Brand

idea@work - Social Media Officer di Balik Sebuah Akun Brand #blogspot
Social Media Officer di Balik Sebuah Akun Brand

Media Sosial secara fundamental telah mengubah mengubah cara perusahaan berkomunikasi. Promosi yang biasanya dilakukan menggunakan media massa audio maupun audio visual yang memiliki feedback delay, sedikit demi sedikit mulai tergeser oleh media sosial yang kecepatan responnya mendekati real-time. Selain itu, seiring dengan meningkatnya demand pasar terhadap komunikasi yang lebih terkustomisasi, media massa kembali harus mengakui keunggulan media sosial yang lebih memungkinkan memiliki human-touch. Juga mengenai targeting dan measuring,media massa kembali harus mengakui kekalahannya di muka media sosial yang lebih memungkinkan terjadinya proses pengukuran yang lebih transparan.

idea@work - Social Media Officer di Balik Sebuah Akun Brand #blogspot
Social Media Officer di Balik Sebuah Akun Brand

Dengan segala keunggulannya, media sosial pun mulai banyak digunakan di dalam prosesbranding dan marketing. Hal ini juga memunculkan profesi baru di ranah komunikasi, yaitu Social Media Officer (SMO). Lebih dari lima tahun ke belakang, saya yakin mungkin profesi ini belum banyak terdengar. Teknologi yang sangat cepat berkembang dan masyarakat yang  semakin dinamis dan kritis membuat banyak perusahaan atau brand menyadari pentingnya melakukan promosi melalui media sosial. Tidak percaya? Silahkan googling lowongan pekerjaan ini.

Secara umum, Social Media Officer (SMO) bertugas untuk mengelola dan meningkatkan interaksibrand di Social Media, seorang SMO menjaga citra brand dan menjaga kedekatan emosional antara brand dengan “massa”-nya. Jika kinerja SMO ini berhasil, maka perusahaan tidak hanya berhasil menjaring customer, lebih dari itu, perusahaan akan mendapatkan komunitasnya sendiri dan membentuk barisan loyalis yang banyak diidamkan para marketer.

idea@work - Social Media Officer di Balik Sebuah Akun Brand #blogspot
Social Media Officer di Balik Sebuah Akun Brand

Tugas SMO sendiri pada dasarnya adalah perpaduan antara Customer Service dan Public Relations, hanya saja seorang SMO ‘sembunyi’ dibalik nama akun Facebook atau Twitter suatubrand. Seorang SMO biasanya hanya dikenal dengan nama “Admin” atau, mengutip slang ala kaskus, “Mimin” oleh fans atau followers-nya. Dalam melaksanakan tugasnya, seorang SMO harus terbiasa berkomunikasi tanpa bertatap muka langsung. Keterampilan berkomunikasi non-verbal ini juga bukan sesuatu yang dapat dilakukan dengan mudah.

Albert Mehrabian, seorang profesor emeritus bidang psikologi dari UCLA, menjelaskan bahwa komunikasi melalui tulisan tidak terlalu efektif dan sangat rentan dengan salah tafsir, karena kita kehilangan 93% fungsi komunikasi kita yaitu non-verbal yang berupa suara dan gerak tubuh. Sambil tetap menjaga Budaya Perusahaan 3S (Senyum, Salam, Sapa) a la seorang customer service, seorang SMO juga harus menciptakan suasana dan interaksi yang nyaman sekaligus berkomunikasi dengan efektif dan efisien dengan fans/followers. Kesemuanya dilakukan dengan hanya melalui bahasa tulis.

Ada beberapa faktor yang mendukung SMO untuk dapat merangkul customer yang akhirnya dapat menjadi customer yang loyal pada sebuah brand. Yaitu menciptakan proximity, membanguntrust, dan meningkatkan emosi.

Proximity atau kedekatan dengan fans/followers-nya dapat diciptakan dengan melakukanengagement. Proses engagement inipun harus dilakukan dengan hati-hati, supaya tidak terkesanflooding dan mengganggu. Salah satunya adalah dengan membalas semua pertanyaan atau tanggapan dengan cepat agar fans/followers merasa diperhatikan.

idea@work - Social Media Officer di Balik Sebuah Akun Brand #blogspot
Social Media Officer di Balik Sebuah Akun Brand

(Salah satu contoh soft selling yang menuntun untuk menggunakan produk meski tidak ada ajakan menggunakan brand tertentu)

Untuk membangun Trust melalui konten, seorang SMO harus mampu mempengaruhi massa agar mempercayai produk yang dipromosikan secara jujur. Setelah fans/followers merasa memiliki kedekatan dengan brand, akan lebih mudah mempengaruhi mereka untuk menggunakan produk kita dengan menggunakan soft selling, sehingga lebih efektif daripada dengan langsung menodong untuk membeli produk kita.

Namun yang perlu diingat, sebagaimana namanya, Trust harus dibangun dengan kejujuran. Hindari over-promise menyangkut manfaat sebuah brand dan jelaskan semua limitasi produk yang dipromosikan. Ingat bahwa Trust dibangun bertahun-tahun, dapat hancur seketika konsumen merasa dibohongi walau sekali saja.

Terakhir, brand hadir dalam batas alasan yang masuk akal hingga sampai kepada emosi. Seorang SMO haruslah dapat mengindentifikasi pemicu emosi dan memiliki Kemampuan untuk membangun perasaan positif tentang sebuah produk atau layanan. Terkadang tanggapan darifans/followers tidak hanya sebatas pada produk kita, tetapi ketika customer tersebut merasa dekat dengan brand, dia juga akan menyampaikan keluh kesahnya di media sosial, tidak ada salahnya SMO memberikan tanggapan.

Tanggapan dari seorang SMO sangat berpengaruh pada psikologi si fans/followers yang pada akhirnya dapat meningkatkan emosi. Tak jarang jika ada yang menjatuhkan brand, fans/followersyang sudah terikat emosinya akan secara sukarela membantu membela.

idea@work - Social Media Officer di Balik Sebuah Akun Brand #blogspot
Social Media Officer di Balik Sebuah Akun Brand

(contoh kasus fans yang membela “brandnya”)

Lalu apa semua hal itu dapat dilkukan oleh SMO seorang diri? Tentu tidak, keberhasilan seorang SMO harus didukung oleh tim yang solid dan mampu bekerja sama sehingga meraih efektifitas maksimum. Yang jelas, menjadi seorang SMO menjanjikan sebuah profesi yang terus menantang kemampuan service dan memperkaya ilmu.

So, tertarikkah kamu menjadi seorang SMO?

[Gambar tumbnail, Gambar post 1 dan 2]

note: tulisan ini telah dimuat di Trenologi tanggal 8 Mei 2013.

Categories
Facebook Social Media Technology

Facebook Graph Search: Cara Baru Untuk ‘Mengambil Alih’ Internet

idea@work - Facebook Graph Search: Cara Baru Untuk ‘Mengambil Alih’ Internet. #blogspot
Facebook Graph Search: Cara Baru Untuk ‘Mengambil Alih’ Internet

Pada hari Selasa, 15 Januari 2013 (waktu setempat), Facebook meluncurkan fitur terbarunya yang diberi nama “Graph Search”.

Dalam videonya, Mark Zuckerberg, Founder dan CEO Facebook, menyebut Graph Search sebagai pilar ketiga dari “The Facebook Experience”, dengan Newsfeed dan Timeline sebagai pilar-pilar yang lain.

Graph Search sendiri adalah suatu fitur di mana pengguna Facebook dapat mencari informasi di situs tersebut dengan query atau keyword yang lebih manusiawi, dengan hasil yang akurat.

idea@work - Facebook Graph Search: Cara Baru Untuk ‘Mengambil Alih’ Internet. #blogspot
Facebook Graph Search: Cara Baru Untuk ‘Mengambil Alih’ Internet

Sebagai contoh, pengguna dapat mengetik “people born in 1990” untuk melihat orang-orang yang lahir di tahun 1990, atau “people born in 1990 who likes Lego” untuk melihat orang-orang yang lahir di tahun 1990, DAN suka bermain lego atau “pizza restaurant in my city” untuk melihat restoran yang menyediakan pizza di kotanya. Atau bagi anda yang ingin melihat foto-foto anda di masa lampau tapi enggan bergelut di antara ribuan album foto yang sudah di-tag oleh rekan anda? Anda bisa memasukkan “photos of me in 2003 I liked ” untuk melihat, misalnya, foto anda pada tahun 2003 yang sudah anda like. Beberapa contoh lain dapat dilihat di artikel Techcrunch.com ini.

Banyak pihak berpendapat bahwa fitur ini sangat revolusioner, dan bahkan dapat menggeser posisi beberapa raksasa internet, seperti Foursquare, LinkedIn, atau bahkan Google.

Bagi anda yang ingin segera mencoba Graph Search, bersabar saja dulu. Untuk sementara ini, Graph Search masih berstatus closed beta, yang berarti hanya orang-orang tertentu saja yang sudah dapat menikmati fitur ini. Untuk anda yang ingin lebih dahulu mencicipi Graph Search, kunjungi tautan ini dan daftarkan diri anda di waiting list yang tersedia pada laman tersebut. Begitu Graph Search telah tersedia, anda akan mendapat notifikasi.

Facebook, Calon Dewa di Alam Maya?

idea@work - Facebook Graph Search: Cara Baru Untuk ‘Mengambil Alih’ Internet. #blogspot
Facebook Graph Search: Cara Baru Untuk ‘Mengambil Alih’ Internet

Untuk ke depannya, saya sendiri berpendapat bahwa Graph Search dapat menjadi awal bagi Facebook untuk mendominasi aliran informasi di internet.

Dengan Graph Search, kita dapat mencari hal-hal yang sangat beragam. Jika kita ingin makan pasta, misalnya, kita dapat mengetikkan “nearby pasta restaurants” pada Graph Search. Pengguna akan menemukan Facebook Page dari restoran-restoran yang menyajikan pasta dengan lokasi yang sedekat mungkin dengan pengguna.

Karena hal ini, saya memprediksi bahwa Facebook akan sangat menggiurkan untuk kalangan pebisnis. Jika sekarang Facebook lebih akrab dengan online shop yang mengumbar produk-produk korea hingga kosmetik yang tidak jelas keamanannya, ke depannya akan terjadi perubahan yang cukup signifikan pada pengguna Facebook dari kalangan pebisnis.

Mereka akan lebih sering meng-update Facebook Page-nya demi meraih perhatian pelanggan. Facebook Page menyediakan banyak kemudahan: para pengguna lain dapat me-like page tersebut, dapat berkomentar, dan pemilik Page sendiri dapat dengan mudah mengunggah konten seperti promo-promo baru dan foto-foto; dan pengguna lain dapat berkomentar pada konten tersebut. Hal ini merupakan suatu hal yang tidak dapat disamai oleh Foursquare.

Saya juga memprediksi perubahan perilaku para eksekutif kantoran di masa depan.

Kita tahu Facebook memberikan kita kesempatan untuk menyertakan info pendidikan dan pekerjaan pada profile Facebook kita. Misalnya, Anda dapat menulis ”worked at PT. Bahagia Abadi” as “Senior Marketing Officer”. Para pemburu bakat, headhunters, dapat dengan mudah mencari individu-individu yang memiliki expertise yang cocok dengan kebutuhan perusahaannya dengan memasukkan keyword yang cocok di Graph Search.

Dengan hal ini, orang akan semakin rajin mengisi profile page selengkap-lengkapnya untuk menarik perhatian para headhunters. Maka posisi LinkedIn sebagai social networking para pekerja bisa dikatakan terancam.

idea@work - Facebook Graph Search: Cara Baru Untuk ‘Mengambil Alih’ Internet. #blospot
Facebook Graph Search: Cara Baru Untuk ‘Mengambil Alih’ Internet

Prediksi di atas memang mengasumsikan bahwa Graph Search dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Namun, beberapa hari setelah Facebook meluncurkan fitur barunya ini, beberapa situs terkemuka mulai menyoroti Graph Search sebagai fitur yang “setengah jadi” dengan algoritma yang belum dapat memprediksi maksud darikeyword yang telah di-input. Beberapa pihak juga menganggap Graph Search semakin memperkuat citra Facebook sebagai surganya para stalker daring (menurut hemat saya, hal ini bisa diatasi dengan privacy settings yang ada di Facebook. Entah hal ini terlalu merepotkan atau memang penggunanya yang tidak mengerti, saya juga kurang tahu).

Namun jika Facebook mampu membuat peningkatan untuk mengatasi batasan-batasan teknis ini, bukan tidak mungkin prediksi saya tadi dapat jadi kenyataan. Misalnya saja, Facebook dapat menambahkan fitur career pada Facebook Page milik perusahaan-perusahaan untuk memudahkan orang mencari pekerjaan.

Kemudian lokalisasi. Facebook dapat juga mengintegrasikan bahasa lain (sementara ini Graph Search baru mendukung bahasa Inggris) ke dalam Graph Search. Fitur ini akan dapat dinikmati oleh banyak orang.

Jika semua hal itu dapat dilakukan, maka Facebook pun menjadi pusat dari segala data, one-stop place tempat orang menaruh kehidupannya di ranah daring. Dan semua data itu tersimpan di server milik Facebook sendiri yang bahkan tak dapat disentuh Google secara menyeluruh.

Dengan begitu banyak informasi dan penggunaan Facebook, tentu akan memancing para pengiklan untuk memasang reklame di Facebook. Dan bukan tidak mungkin Facebook akan dapat ‘merampas’ revenue Google yang didominasi oleh pendapatan iklan di kemudian hari.

Karena alasan-alasan di atas, saya beranggapan bahwa masa depan Facebook sendiri sangat ditentukan oleh seberapa serius Facebook akan menggarap Graph Search ini. Sebagai informasi, para investor menanggapi pesimis fitur baru ini. Hal ini tergambar dengan justru menurunnya harga saham Facebook yang sudah jatuh cukup rendah dari harga Penawaran Saham Perdananya Mei 2012 lalu.

Saya pribadi cukup optimis bahwa perusahaan yang dinahkodai Mark Zuckerberg ini akan mampu menjawab tantangan publik. Bagaimana dengan anda?

note: tulisan ini telah dimuat di Trenologi tanggal 13 Februari 2013.

Categories
Digital Marketing Technology

E-Commerce dan Prosedur “Checkout” Yang Lebih Baik

idea@work - E-Commerce dan Prosedur “Checkout” Yang Lebih Baik. #blogspot
E-Commerce dan Prosedur “Checkout” Yang Lebih Baik

Di era yang serba digital ini, banyak aktivitas sehari-hari kita mengalami transisi ke ranah digital. Tak terkecuali aktivitas perdagangan yang mulai memasuki era e-commerce.

e-commerce atau perdagangan elektronik adalah kegiatan jual-beli barang atau jasa melalui perantara sistem elektronik seperti radio, televisi atau internet. Salah satu bentuk e-commerceyang paling umum ditemukan saat ini adalah webstore. Webstore pada dasarnya adalah websiteyang menampilkan katalog produk dan memfasilitasi para pengunjungnya untuk melakukan transaksi jual-beli untuk produk yang ditampilkan pada katalog tersebut.

Seperti teknologi lain pada umumnya, sistem webstore selain memberikan berbagai kemudahan pada penggunanya, juga mendapat tantangan baru. Tantangan tersebut terutama timbul karena terbatasnya interaksi antara pihak-pihak yang terlibat dalam sistem tersebut. Salah satu hambatan yang sering terjadi adalah pada proses checkout.

Proses checkout adalah titik utama dimana transaksi jual-beli pada suatu webstore terjadi. Proses ini terjadi ketika pengunjung telah selesai memilih produk yang hendak dibeli. Proses checkout ini jika dilihat sekilas memang cukup sepele. Namun bagaimana suatu webstore men-handle prosescheckout dapat mempengaruhi conversion rate, atau jumlah website visit yang berlanjut ke pembelian yang terotorisasi.

Detail prosedur checkout bervariasi untuk setiap jenis webstore. Pada umumnya pada proses ini pembeli biasanya akan diminta untuk memasukan berbagai info yang dibutuhkan webstore untuk memproses transaksi yang dilakukan oleh pembeli, misalnya nama, alamat email dan detail pembayaran. Pada webstore yang menjual tangible product, biasanya webstore akan menanyakan alamat pengiriman sebagai tambahan.

Prosedur tersebut cukup lumrah dan dan dapat dimaklumi oleh pembeli karena informasi-informasi tersebut secara logika memang dibutuhkan untuk memastikan terjadinya transaksi. Namun diluar itu, terkadang webstore meminta pembeli untuk melakukan beberapa aksi tambahan. Misalnya mengharuskan pembeli untuk login atau mendaftar sebagai member jika ingin melanjutkan transaksi. Contoh lainnya adalah webstore kadang meminta pembeli untuk memasukan informasi seperti tanggal lahir, jenis kelamin, dan nama belakang, seperti form di suatu webstore di bawah ini.

idea@work - E-Commerce dan Prosedur “Checkout” Yang Lebih Baik. #blogspot
E-Commerce dan Prosedur “Checkout” Yang Lebih Baik

Cukup trivial memang, namun mengisi kolom-kolom tersebut berarti menambah pekerjaan bagi pembeli. Tak bisakah menggabung nama belakang dan nama depan menjadi kolom “nama” saja?. Tak bisakah menanyakan informasi-informasi tambahan tersebut setelah pembeli selesai melakukan transaksi?

Anda dapat membayangkan sedang berada di sebuah toko di mana si penjaganya menanyai anda macam-macam. Cukup menyebalkan bukan? Kurang lebih seperti itulah webstore yang dimaksud.

Sistem webstore seharusnya berprinsip layaknya teknologi lain, yaitu mempermudah dan mempercepat kerja manusia. Pada proses checkout jual-beli konvensional biasanya pembeli hanya cukup mendatangi kasir, memberikan barang yang hendak dibeli, kemudian membayar sejumlah uang yang dibutuhkan. Dapat dibayangkan betapa menyebalkannya jika sang pelayan toko mengharuskan pembeli untuk menjadi anggota toko tersebut sebelum melakukan transaksi, atau menanyakan nama, tanggal lahir pembeli.

Lalu bagaimana baiknya? Penulis sekali lagi menyarankan untuk berpegang pada prinsip: “mempermudah dan mempercepat”. Untuk kasus proses checkout ini penulis memberikan saran untuk meminta informasi seminimal mungkin yang dibutuhkan untuk transaksi, lalu biarkan pembeli melakukan pembayaran dan menerima konfirmasi pembelian. Adapun jika dibutuhkan untuk memberikan penawaran tambahan seperti program membership, berlangganan newsletter dan lain-lain, alangkah baiknya dapat dilakukan setelah pembeli selesai melakukan transaksi.

Salah satu contoh proses checkout seperti yang dianjurkan oleh penulis telah terimplementasi pada situs http://www.humblebundle.com/, situs yang menggabungkan bisnis penjualan bundling game Android dan charity. Pembeli dapat menentukan sendiri harga yang rela ia bayar, dan juga menentukan proporsi dari harga tersebut yang diberikan untuk amal. Saat ini situs ini sedang melakukan penjualan.

idea@work - E-Commerce dan Prosedur “Checkout” Yang Lebih Baik. #blogspot
E-Commerce dan Prosedur “Checkout” Yang Lebih Baik

Dapat dilihat pada gambar diatas, informasi yang diminta dari pembeli hanya jumlah harga yang diinginkan pembeli, pembagian hasil dari pembelian, alamat email dan pilihan apakan pembelian ini merupakan gift untuk orang lain. Tak ada keharusan untuk menjadi member, ataupun informasi lain yang tidak terlalu relevant dengan transaksi yang dilakukan. Adapun penawaran untuk menjadi member ataupun penawaran berlangganan newsletter dilakukan terpisah dari prosescheckout, sehingga proses pembayaran yang menjadi tujuan utama dari webstore tersebut dapat terlaksana dengan efisien.

Sedikit lagi mengenai proses after-checkout. Hasrat manusia yang luar biasa untuk berbagi dapat dimanfaatkan untuk mendapat publikasi gratis. Kita bisa tambahkan tombol share di akhir prosescheckout agar pembeli dapat share pembeliannya di akun media sosial yang ia miliki. Lebih jauh mengenai hal ini akan penulis kupas di artikel lainnya. Yang jelas, di era digital marketing ini, kita memang harus pandai-pandai mempromosikan diri, bukan?

note: tulisan ini telah dimuat di Trenologi tanggal 24 April 2013.

Categories
Copywriting Digital Campaign Facebook Social Media Twitter

Copywriting Untuk Media Sosial

idea@work - Copywriting Untuk Media Sosial #blogspot
Copywriting Untuk Media Sosial

What is Copywriting?

Menurut Wikipedia“Copywriting adalah sebuah tindakan menulis yang tujuannya untuk mengiklankan atau memasarkan sebuah produk, bisnis, seseorang, opini atau ide. Sang pembaca tulisan diharapkan akan terbujuk untuk membeli produk yang diiklankan, atau menyetujui sudut pandang dari isi tulisan yang telah dibagikan.”

Copywriting secara lebih indah dijelaskan dalam blog Adverdreamscopywriting adalah seni menyusun kata-kata yang membangun emosi dan membentuk imajinasi, serta punya daya pengaruh yang begitu kuat. Obyek copywriting tentu saja mengolah kata dan menggunakan strategi kreatif periklanan yang benar-benar mempertimbangkan keadaan pasar, konsumen, kondisi serta persaingan.

Pekerjaan copywriting ini semacam menggabungkan antara sastrawi dan intelektual, artinya bagaimana sih caranya kita membuat naskah iklan yang berstrategi. Karena kata-kata tentu penting sekali dalam periklanan bukan?

Dalam dunia advertising, pengaplikasian copywriting tidak melulu dalam iklan di media cetak seperti billboard, brosur, katalog. Media-media lain juga menggunakannya seperti: Naskah di TV sebelum berubah menjadi iklan, lirik untuk jingle di radio, dan tentu saja di internet dan media sosial.

Ya, dalam media sosial, copywriting termasuk sebuah skill yang harus dikuasai. Pastinya karena sebagian besar interaksi brand dengan calon pembeli akan terjadi dalam bentuk tulisan. Seorangcopywriter memulai pekerjaannya dari menulis deskripsi produk sampai mempromosikan ke media sosial itu sendiri.

Persiapan sebelum mulai menulis, seorang copywriter mempelajari product knowledge dari suatu brand dengan tujuan memahami kepada siapa tulisannya ditujukan. Tentu saja copywriter tidak akan bisa memuaskan semua orang, maka dari itu penting sekali mengenali target pasar, baca apa yang mereka baca, lakukan riset pasar kecil-kecilan dan memahami sebaik-baiknya target pasar sebelum menuliskan satu katapun.

Kita lihat contoh di bawah.

idea@work - Copywriting Untuk Media Sosial #blogspot
Copywriting Untuk Media Sosial

Dua gambar di atas adalah contoh tweet dari akun suatu produk. Bedanya, gambar kiri adalah produk dengan target pasar wanita, sedangkan yang kanan membidik pasar remaja pria. Terlihat bukan perbedaannya? Contoh lain yang paling sederhana, misalnya adalah kita tidak mungkin menuliskan kata “loe/gue” atau “gokil” untuk konten produk susu kalsium lanjut usia.

Kalau sudah didapat target pasarnya, baru seorang copywriter mulai menyusun konsep tulisan yang terstruktur, dan mewujudkan konsep tadi dalam bentuk tulisan yang konkrit.

Tapi yang tak kalah pentingnya adalah headlining, alias bikin headline. Menurut Brian Clark, Founder Copyblogger , 80% orang hanya membaca headline saja. Headline atau judul adalah elemen paling penting dalam copywriting. Tidak mungkin jika copywriter menginginkan tulisannya tidak dibaca? Jadilah copywriter menggunakan sebagian besar waktu untuk memikirkan headlineyang akan membuat orang lain tertarik untuk terus membaca.

Nah, headline yang menarik ini banyak banget bentuknya. Tapi untuk konteks digital, kita ambil contoh saja yang paling sederhana:

idea@work - Copywriting Untuk Media Sosial #blogspot
Copywriting Untuk Media Sosial

Di atas adalah contoh headlining yang baik. Komunikatif, singkat, dan membuat penasaran. Karena headline yang cukup catchy ini, seringkali orang jadi tertarik untuk meng-klik URL berita lengkap yang juga terdapat di headline tersebut. Untuk contoh-contoh headline lainnya, silakan tengok di sini.

Meski headline itu luar biasa pentingnya, tentu kita tidak bisa lantas membikin konten secara asal-asalan. Dalam media sosial, khususnya Twitter, yang terbatas dengan 140 karakter jadi tantangan tersendiri bagi seorang copywriter, bagaimana caranya menghasilkan tulisan yang singkat, padat, dan tepat sasaran. Seorang copywriter dituntut untuk mampu ‘berwajah banyak’ jika dalam kondisi menulis untuk lebih dari satu brand. Disinilah riset kecil-kecilan tadi bermanfaat, bagaimana menulis untuk produk anak-anak, remaja, dewasa, juga pria atau wanita. Apa sih bahasa “gaul” yang lazim dipakai masing-masing pasar? Atau hal yang sedang hangat dibincangkan?

Kemampuan mengolah kata, dan kaya akan kosakata menjadi hal penting bagi copywriter agar tulisan yang dibuat tidak membosankan, dan selalu membawa ide segar dalam setiap tulisan. Tentu saja semua tidak terlepas dari kata-kata yang informatif, bersahabat, komunikatif, tidak bertele-tele, dan merangkai kalimat yang membuat konsumen merasa nyaman, senang, dan menghibur.

Satu lagi yang terlihat sepele namun cukup penting, tujuan utama social media marketing adalah memanfaatkan kekuatan media sosial itu sendiri dalam menggapai banyak orang sekaligus. Nah, sekumpulan orang ini harus di-engage. Seorang copywriter harus mampu mengkomunikasikan materi dengan sedemikian rupa sehingga audiens merasa bahwa pesan tadi bersifat personal. Apakah terasa aneh saat kita mendengarkan radio, penyiar menggunakan kata ‘kalian’? Apakah terkesan tidak personal? Nah, sama seperti media lain yang menggunakan komunikasi personal, dalam social media, hal ini juga berlaku untuk menciptakan keakraban. Maka dari itu, gunakan kata sapaan seperti sedang berbicara dengan satu orang, seperti: “Anda” atau “Kamu” yang tentunya disesuaikan dengan target pasar, tak jarang suatu brand mempunya panggilan akrab seperti “Bro”, “Sobat” atau panggilan lain yang seringkali tergantung juga dengan image yang ingin diciptakan dari suatu produk

Menurut pengalaman saya pribadi sebagai copywriter, profesi ini menuntun kemampuan analisa yang tinggi, terutama dalam mengenali audiens. Saat-saat yang menyenangkan adalah saat kita ‘berubah’ dari satu kepribadian ke kepribadian lain. Ada kalanya seorang copywriter harus menjadi seseorang yang ceria dan gaul ala remaja, kemudian jadi pribadi super feminin yang up-to-date terhadap tren fashion terbaru, kemudian berubah menjadi laki-laki yang maskulin dalam waktu yang kadang bersamaan. Konsentrasi tentu saja jangan sampai terpecah, jangan sampai tertukar antara satu identitas dengan identitas yang lain.

Simpelnya sih, kami para copywriter adalah orang-orang yang wajib memiliki kepribadian yang kaya. ;)

note: tulisan ini telah dimuat di Trenologi tanggal 17 April 2013.

Categories
Digital Campaign Social Media

Aktivasi Brand dalam Genggaman

idea@work - Aktivasi Brand dalam Genggaman. #blogspot
Aktivasi Brand dalam Genggaman

 

Menurut data yang diperoleh dari Markplus Insight penggunaan internet di Indonesia pada tahun 2011 sudah mencapai 55 juta orang yang meningkat sebelumnya dari 42 juta orang. Dari angka ini, sekitar 57,4% atau sekitar 29 juta adalah pengguna mobile.

Jumlah pengguna mobile yang fantastis ini tentunya merupakan indikator tingginya penggunaansmartphone di Indonesia. Beberapa platform smartphone yang hadir di Indonesia antara lain BlackBerry, Apple dan Android. Smartphone tersebut memberikan fitur dan sensasi yang berbeda kepada konsumen untuk menggunakannya. Namun pada dasarnya penggunaan smartphonetersebut digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari konsumen yang “go mobile”.

Sedangkan berdasarkan data yang diperoleh dari Global StatCounter (Maret 2012 – Maret 2013), Operating System (OS) Android mengalami peningkatan yang tajam. Hal ini dikarenakan berkembangnya berbagai macam device, mulai dari tablet dengan harga murah sampai dengansmartphone high end dengan berbagai macam fitur yang menggoda.

idea@work - Aktivasi Brand dalam Genggaman. #blogspot
Aktivasi Brand dalam Genggaman

Seiring peningkatan pengguna smartphone, pengguna social media pun turut bertambah. Dengan meningkatnya kualitas hardware ditambah dengan semakin terjangkaunya harga smartphone,masyarakat semakin mudah mengakses social media di manapun, kapanpun. Efeknya pun mudah dilihat. Tentu Anda sudah biasa melihat foto-foto makanan mencemari timeline Twitter Anda, bukan? Atau rekan-rekan Anda yang menggunakan Foursquare atau Path untuk check-in di café-café? Itulah bukti betapa membuminya penggunaan smartphone sekarang ini.

idea@work - Aktivasi Brand dalam Genggaman. #blogspot
Aktivasi Brand dalam Genggaman

Dalam social media campaign sering dikenal istilah Brand Activation, sebagai strategi agar brand dapat meningkatkan loyalitas konsumen. Umumnya aktivitas dari Brand Activation ini ditandai dengan diadakannya berbagai kontes pada social media seperti Facebook atau Twitter.

Sebagian besar brand sudah banyak yang menggunakan social media sebagai media untuk mendekatkan diri dengan konsumen melalui berbagai macam campaign. Hal ini sejalan dengan kredo yang disampaikan oleh Hermawan Kartajaya dalam bukunya yang berjudul “Marketing 3.0: From Products to Customers to the Human Spirit”, yang menyebutkan bahwa sebuah brand harus mempunyai “human spirit”, yaitubrand juga harus bisa bertindak sebagai “manusia” atau “teman” oleh konsumen sehingga konsumen merasakan bahwa mereka juga membutuhkan brand tersebut.

Namun, apakah social media campaign saja cukup? Dengan berkembangnya smartphone di tanah air saat ini seharusnya terbuka peluang agar brand dapat melakukan ekspansi untuk menggunakan smartphone sebagai salah satu tool untuk melakukan Brand Activation.

Lalu bagaimana agar smartphone tersebut dapat menjadi marketing tool yang baik? Jika pertanyaan tersebut muncul dibenak Anda, silakan kembali ke paragraf sebelumnya tentang mobilitas dan human spirit. Pada dasarnya Anda harus dapat menggabungkan dua elemen tersebut agar Brand Activation Anda menggunakan smartphone berhasil. Tentunya dengan menggunakan smartphone tersebut Anda diharuskan membuat sebuah aplikasi yang berkaitan dengan Brand Activation dan brand Anda sendiri.

Saya ambil contoh, Oreo menggunakan mobile games “Twist Lick Dunk” untuk melakukan aktivitascampaign-nya. Tentunya slogan tersebut tidak asing lagi di telinga kita, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berupa “diputer dijilat terus dicelupin deh”. Mobile games ini mempunyai gameplay yang serupa dengan Fruit Ninja lalu dikombinasikan dengan identitas brand Oreo sehingga efeknya konsumen akan lebih faham bagaimana merasakan sensasi untuk menikmati Oreo. Selain itu, pada games tersebut konsumen dapat memperoleh skor yang nantinya akan ditukarkan (atau dibelanjakan) dengan produk Oreo lainnya. Di sini terdapat aktivitas konsumenaware terhadap produk Oreo dan tertarik untuk mencoba produk yang sudah ada ataupun produk baru dari Oreo.

 

Lain halnya dengan brand dalam negeri Tri yang saat ini merilis sebuah aplikasi bernama “BimaTri”. Aplikasi tersebut mempunyai fitur utama untuk mengingatkan konsumen untuk mengisi ulang ketika kuota sudah mencapai batas atau ketika masa tenggang akan berakhir. Tri sangat cerdik melihat potensi tersebut karena saat ini belum ada aplikasi serupa di pasaran Indonesia. Selain itu, terdapat juga fitur lain seperti profile, isi ulang dan tips & trick. Data yang saya dapat ketika melihat aplikasi tersebut di Google Play Store, sudah diunduh sekitar 500.000 kali dengan jumlah review mencapai 1,856 reviewers (diakses pada tanggal 2 April 2013, pukul 15:47).

idea@work - Aktivasi Brand dalam Genggaman. #blogspot
Aktivasi Brand dalam Genggaman

Dengan melihat potensi penggunaan smartphone di Indonesia saat ini tentunya terbuka peluang yang sangat lebar untuk brand atau agency untuk menentukan langkah Brand Activation yang menarget pengguna smartphone secara spesifik. Langkah ini bisa saja dengan merilis mobile games (advergames) atau aplikasi yang dapat memanjakan konsumen untuk menunjang aktivitas sehari-hari tanpa menghilangkan identitas dari brand itu sendiri.

Nah, para pemasar, sudah smartphone-ready-kah Brand Activation Anda? ;)

note: tulisan ini telah dimuat di Trenologi tanggal 10 April 2013.