Categories
Brand Campaign Digital Campaign Digital Marketing Marketing Strategy

Menengok Product Placement dalam Layar Lebar

Film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2 meramaikan layar perak Indonesia dengan didukung oleh sembilan sponsor. Dukungan dari sponsor sebanyak itu, sedikit banyak memberi pengaruh pada beberapa adegan di dalam AADC 2, atau yang biasa kita sebut dengan istilah product placement. Banyak yang menanggapinya dengan santai, namun tak sedikit pula yang mengkritiknya dari sisi estetika. Sebenarnya, bagaimana tolak ukur product placement yang baik dalam sebuah film?

Sebelum berangkat lebih jauh, mari kita pahami dulu maksud dari product placement. Sesuai pengertiannya, product placement merupakan kegiatan menyisipkan produk suatu merek dengan media tertentu, salah satunya film, guna memindahkan konteks dan mood penonton yang sedang menyimak film tersebut. Pada beberapa aspek, nyatanya product placement lebih unggul dalam memberikan persuasi pada penonton melalui segi brand recall, asosiasi merek, dan sikap terhadap pesan komersial.

Mengapa product placement lebih unggul daripada iklan biasa? Hal ini terjadi karena timbulnya counter argument atau keraguan pemirsa pada iklan, sehingga pemasar mulai mencari jalan lain untuk tetap memasarkan produknya. Di sini, cara pemasarannya yaitu membayar tampilan pesan pada penggarap film tertentu, sehingga isi dan format pesan dikontrol oleh pemasar meski teknisnya dikendalikan oleh film bersangkutan.

Product placement dapat diartikan pula sebagai penggabungan antara iklan dan publisitas. Dengan demikian, maka pesan komersial yang ditampilkan dapat dipercaya oleh publik. Meski novel tercatat sebagai media hiburan yang pertama kali disusupi product placement, namun ia lebih populer kehadirannya di serial televisi terutama film layar lebar seperti AADC 2 yang tadi sempat dibahas.

Selain AADC 2, ada beberapa film yang menjadi ikonik dengan product placement-nya, seperti pada saat jam tangan Omega pada film James Bond. Beberapa kali terlihat, jam ini selalu dipakai oleh James Bond saat beraksi membasmi kejahatan. Sebagai agen rahasia, tentu ia selalu menengok jam tangan tersebut mengingat perlu sekali pengaturan waktu yang tepat. Sepintas memang tak terlihat bahwa product placement sedang berlangsung karena menjadi satu dalam alur cerita, namun seperti itulah metode ini berjalan.

Idea@work – Menengok Product Placement dalam Layar Lebar
Sadar tak sadar, sebuah iklan sedang berlangsung di sinema favoritmu!

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa product placement mampu menguatkan brand recall dan brand recognition. Produk yang sering dilihat atau diucap, akan lama melekat di benak konsumen ketimbang yang tidak. Maka dari itu, kehadiran AADC 2 seolah mengundang hasrat para pemasar untuk mencantumkan produknya pada film tersebut. Salah satu benefit lainnya bagi para pemasar adalah produk mereka jadi lebih bergaya ketika dipakai oleh salah satu pemeran dalam film tersebut, sehingga mampu menciptakan daya lifestyle branding yang tinggi pada masyarakat.

Berbicara kelebihan, tentu hadir pula kekurangannya. Bagi pemasar yang tak memiliki budget selangit, tentu biaya absolute product placement cenderung mahal ketimbang biasanya. Selain itu, mereka juga tak dapat menentukan di scene mana iklannya bakal dipasang serta seberapa sering ditampilkan. Bahkan saat ini, audiens sudah menyadari bahwa bentuk iklan seperti ini mengganggu dan terkesan “aji mumpung” untuk ditayangkan. Tak heran, banyak pula yang benci oleh film tertentu hanya karena terlalu banyak iklan di dalamnya. Selain merusak citra film tersebut, iklan pun pada akhirnya berujung menjadi tidak efektif.

Polemik yang ada pada ranah product placement, sampai saat ini selalu menjadi perbincangan yang segar di kalangan marketing enthusiast bahkan sampai ke pecinta film itu sendiri. Namun satu yang pasti, aktivitas promosi ini konon cukup efektif dalam melesatkan awareness sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi para pemilik merek. Selama bisa tampil sealamiah mungkin lalu hadir dalam adegan yang tepat, bahkan melebur bersama emosi penonton, product placement akan selalu dinilai sebagai salah satu jurus beriklan yang paling ampuh. Lantas, bagaimana pendapatmu tentang kehadiran product placement pada sinema favoritmu?

2 replies on “Menengok Product Placement dalam Layar Lebar”

Pada dasarnya product placement memiliki fungsi yang sama seperti halnya audience targeting yang biasa dilakukan pada periklanan konvensional atau digital. Perbedaannya, jika pada periklanan konvensional biasanya targeting terjadi dalam scope ruang dan waktu (misal: iklan di suatu billboard ditujukan untuk audience yang melintas di wilayah billboard itu berada atau iklan televisi di pagi hari ditujukan untuk audience yang memiliki kebiasaan menonton televisi di pagi hari) dan targeting periklanan digital biasanya berada dalam scope demografi (misal: iklan FB Ads yang ditujukan untuk umur, gender dan memiliki interest tertentu), maka targeting product placement di sebuah film atau acara televisi biasanya berada dalam scope psikologis (misal: product placement yang berada di film superhero produksi Marvel ditujukan supaya audience yang memiliki ketertarikan terhadap produk yang sinonim dengan tokoh protagonis atau antonim dengan tokoh protagonis di film tersebut).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.