Categories
Figure Quote

Perpaduan Strategi dan Kreatifitas dalam Proses Branding

Tidak cukup hanya pintar untuk berstrategi. Dalam melakukan branding, kreatifitas berkomunikasi wajib bersanding di sisinya. Hal ini penting untuk menciptakan unique value, dan utamanya demi menyampaikan pesan dengan efektif.

Categories
Figure Leadership

Moneyball, Pull-the-Goalie, dan Menjadi Pemimpin Yang ‘Irasional’

Pada awal musim 2002 Major League Baseball, tim Oakland’s A berada di posisi paling bawah setelah mengalami kekalahan berat di musim sebelumnya. Billy Beane, GM (General Manager) dari Oakland’s A kemudian melakukan langkah drastis yang dianggap hampir semua orang irasional demi membuat timnya menang; menjual 3 pemain bintang dan menggantinya dengan pemain yang tidak terkenal.

Publik, fans, dan media kebingungan dengan langkah yang diambil Billy Beane. Semua mencemooh, menganggap hal tersebut sebagai keputusan terburuk yang pernah diambil. Bagaimana bisa aset tim paling penting malah dijual pada saat menderita kekalahan seperti ini?

Tapi Billy Bean tetap tegar.

Walaupun disangka gila dan irasional oleh semua orang, dia percaya bahwa apa yang dilakukannya adalah keputusan paling rasional yang harus diambil agar bisa menjadi juara.

Hasilnya?

Tim Oakland A’s meraih kemenangan 20 kali berturut-turut, sekaligus memecahkan rekor selama 135 tahun.

Cerita di atas bukanlah sebuah fiksi, melainkan kisah nyata yang diambil dari buku berjudul Moneyball: The Art of Winning an Unfair Game yang kemudian diadaptasi menjadi film berjudul Moneyball pada tahun 2011. Buku dan film ini menceritakan bagaimana kepemimpinan ‘irasional’ yang dilakukan oleh GM Billy Beane mampu membawa tim Oakland A’s meraih winstreak dan memecahkan rekor dunia, setelah babak belur menjadi salah satu tim papan bawah dan paling miskin di musim sebelumnya.

Di awal musim, Billy Beane sadar bahwa dia tidak bisa bersaing dengan tim papan atas dengan budget lebih besar yang mampu membeli pemain-pemain bintang. Dengan segala keterbatasan ini, Billy Bean kemudian mencoba mencari cara non-konvensional untuk mendapatkan tim juara dengan budget yang minim.

Jawabannya adalah data dan matematika.

Dibantu oleh rekannya Paul DePosta, Billy Beane melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya; mengandalkan data dan ilmu matematika dalam memilih pemain dan membuat strategi permainan. Satu aksi yang benar-benar menggoyang tradisi Major League Baseball yang sudah berjalan ratusan tahun dengan pola yang sama.

Selama bertahun-tahun, baseball dan dunia olahraga lainnya dibangun dari tradisi yang menghasilkan citra tertentu terhadap para pemainnya. Tapi seiring berkembangnya ilmu riset dan teknologi, ditemukan banyak kekurangan dari penilaian yang didasarkan atas citra tersebut. Pemilik tim, GM, pelatih, dan perekrut sering mengabaikan pemain-pemain yang sebenarnya berkualitas hanya karena alasan bias, seperti umur, penampilan dan kepribadian.

Billy Beane dan Paul DeCosta kemudian merevolusi cara berpikir tradisional ini dengan melihat angka statistik pemain di lapangan, dan mengabaikan alasan-alasan bias lainnya, untuk bisa melihat ‘nilai’ sesungguhnya dari pemain tersebut.

Dengan strategi ini, Billy Beane mampu mencatatkan nilai kemenangan per game hanya seharga $260.000, dimana tim juara saat itu New York Yankees mengeluarkan $1.400.000 untuk setiap kemenangan yang didapatnya.

Sungguh efisiensi yang luar biasa bukan?

Ilusi Citra dan Realita Nyata

Revolusi yang dibawa oleh Billy Beane, ditambah buku yang dibuat oleh Michael Lewis membuat strategi ini mempunyai nama panggilan tidak resmi dalam dunia olahraga; Moneyball. Strategi ini membuat banyak tim olahraga mengubah cara bermain mereka, meninggalkan tradisi ratusan tahun dan mulai menggunakan riset dan teknologi untuk mencari, merekrut, dan membuat strategi permainan.

Billy Beane adalah contoh sempurna dari sebuah kepemimpinan eksperimental, dimana dia mencoba membuat sebuah keputusan berdasarkan apa yang penting (statistik pemain) dan membuang apa yang tidak penting (bias persepsi) untuk mendapatkan hasil yang optimal, walaupun banyak orang tidak setuju dengan keputusan yang dia buat atau bahkan menganggapnya sudah gila.

Billy Beane tidak peduli dengan citra dirinya sendiri. Dia hanya peduli realita lapangan dimana dia harus membuat timnya menang dengan segala keterbatasan yang ada.

Billy Beane menggunakan prinsip pull-the-goalie.

Pull-the-goalie adalah satu istilah yang berasal dari permainan ice hockey dimana pelatih biasanya memutuskan kiper gawang untuk ikut maju menyerang demi mendapatkan poin tambahan. Istilah ini kemudian digunakan oleh peneliti bernama Clifford Asness dan Aaron Brown yang dipakai dalam riset mereka berjudul Pulling the Goalie: Hockey and Investment Implications, sebuah penelitian yang menjelaskan bagaimana pelatih-pelatih olahraga sering membuat keputusan yang salah demi menjaga citra tim atau citra mereka sendiri.

Dalam sebuah permainan hoki, pelatih biasanya menggunakan strategi pull-the-goalie di menit terakhir sebagai upaya untuk mengejar ketertinggalan angka dan meningkatkan probabilitas kemenangan bagi tim tersebut.

Tapi dari jurnal di atas, ditemukan sebuah model dimana untuk mendapatkan probabilitas kemenangan yang paling optimal, seorang pelatih harus melakukan strategi pull-the-goalie pada 5 menit 40 detik sebelum pertandingan berakhir. Dan jika tim tersebut kalah dua angka, jurnal ini mengatakan bahwa strategi pull-the-goalie harus dilakukan 11 menit sebelum pertandingan berakhir.

Sekarang bayangkan jika ada pelatih yang melakukannya ketika babak final sebuah kejuaraan dunia, membiarkan gawangnya tidak dijaga oleh kiper 11 menit sebelum pertandingan berakhir. Bagaimana respon pemilik tim, pemain dan para fans yang menonton?

Kemungkinan besar mereka akan mencaci, memaki, dan mencemooh pelatih tersebut selama berbulan-bulan bahkan hingga bertahun-tahun karena melakukan hal yang gila dan ‘irasional’. Padahal menurut perhitungan matematika pada jurnal di atas, keputusan tersebut adalah keputusan yang paling rasional harus diambil jika ingin meningkatkan probabilitas kemenangan.

Karena alasan inilah seorang pemimpin, pelatih atau pemilik tim yang sudah memiliki nama besar biasanya akan memasukan faktor reputasi yang mereka miliki ketika membuat sebuah keputusan demi menjaga citra mereka di mata publik. Mereka begitu peduli dengan opini dari orang lain, yang sering kali membuat mereka enggan mengambil sebuah keputusan yang mengancam reputasi mereka, walaupun keputusan tersebut adalah yang paling tepat. Akhirnya mereka malah mengambil keputusan yang ‘paling aman’ untuk menjaga reputasi walaupun tidak efektif atau bahkan bisa mengacaukan segalanya.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa menerapkan strategi pull-the-goalie dengan alasan yang tepat.

Tidak hanya bisa diterapkan dalam bidang olahraga, apa yang dilakukan oleh Billy Beane juga dapat diterapkan di hampir semua bidang pekerjaan. Prinsip strategi ini tidak hanya akan membuat perspektif baru dan mendatangkan kesempatan yang menguntungkan, tapi juga membuat sumber daya yang ada dapat digunakan dengan optimal, efektif, dan efisien.

  • Pull-the-goalie membuat pemimpin mampu melihat kemampuan, kapasitas, kapabilitas, dan potensi bawahannya dengan tepat tanpa terhalang bias.
  • Pull-the-goalie membuat pemimpin tahu dimana dia menempatkan bawahannya yang sesuai dengan kemampuan dan potensi yang dimilikinya, yang jelas akan membuat kolaborasi kerja semakin apik dan menghasilkan pekerjaan yang lebih berkualitas.
  • Pull-the-goalie membuat pemimpin selalu membuat keputusan yang tepat dan paling rasional tanpa bias, menghasilkan output paling optimal yang bisa diambil walaupun keputusan tersebut tidak populer atau bahkan terlihat ‘irasional’.

Tidak mudah memang menerapkan pull-the-goalie dalam kehidupan profesional. Dibutuhkan keberanian yang tinggi untuk mengorbankan ‘reputasi’ dan menerima social cost, apalagi jika taruhannya mengancam pekerjaan dan penghidupan diri sendiri.

“The first guy who goes through the wall always gets bloody. Always.” – John Henry from the movie Moneyball (2011)

Tapi semuanya akan kembali ke pertanyaan mengenai mana yang lebih penting untuk Anda: menjadi pionir dari sebuah strategi yang memberikan kemungkinan menang lebih tinggi untuk tim Anda, atau menjaga reputasi dan ego diri demi mendapatkan hasil yang mungkin sudah bisa diduga?

Jika Anda adalah seorang pemimpin, selalu pilih yang pertama.

 

 

 

 

Categories
Figure Leadership

Book Review; Leading: Learning from Life and My Years at Manchester United

Book Review; Leading: Learning from Life and My Years at Manchester United from Idea Imaji

Manchester United berhasil menjuarai Liga Inggris 2013 untuk ke-10 kalinya. Ketika sebuah tim berhasil mengangkat trofi di kejuaraan Liga Sepakbola satu kali saja, hal tersebut merupakan sebuah pencapaian luar biasa, namun bagaimana bisa mereka meraihnya hingga 10 kali?
.
Kesuksesan ini berkat peran Alex Ferguson. Kepemimpinannya telah menginspirasi banyak manager lain, bahkan di luar sepakbola. Di penghujung karirnya, Sir Alex membukukan teknik kepelatihannya selama masa keemasan tersebut dalam buku “Leading: Learning from Life and My Years at Manchester United”. Simak reviewnya dari #IdeaLibrary dan jadikan inspirasi dalam memimpin tim Anda!

Categories
Figure Quote

Ciptakan Performa Tim yang Maksimal dengan Kondisi yang Lebih Baik

Jurgen Klopp dikenal sebagai pelatih jenius sekaligus seorang pemimpin yang hebat. Dalam asuhannya, Borrusia Dortmund kembali ke status elit Liga Jerman, dan Liverpool sukses menjadi kampiun Liga Inggris setelah penantian 30 tahun.
.
Di atas lapangan, pria kelahiran Jerman ini mampu menghasilkan performa tim yang memiliki efektivitas beberapa kali lipat dari kemampuan masing-masing individu pemainnya. Sedangkan di luar lapangan, ia dikenal sebagai sosok yang dekat dan mampu membangun loyalitas tinggi dari para pemainnya.
.
Kesuksesan klub yang dilatihnya tercipta dari filosofinya dalam melatih dan memimpin: meningkatnya performa tim tidak melulu ditentukan dari pergantian individu yang ada di dalamnya, namun juga dari menciptakan kondisi yang dapat mendukung setiap anggotanya untuk bekerja lebih baik.

Categories
Figure Quote

Pemberdayaan Karyawan untuk Bisnis Anda

Karyawan adalah aset paling berharga. Pemberdayaan secara tepat menjadi tugas terpenting perusahaan, sehingga mereka dapat memberikan yang terbaik di setiap lini proses bisnis. Mendengarkan pendapat yang konstruktif, memberi ruang untuk ide dan kreasi, serta mendukung pengembangan potensi mereka menjadi beberapa faktor yang menentukan tercapai tidaknya tujuan bisnis Anda.