Categories
Digital Campaign Social Media

Aktivasi Brand dalam Genggaman

idea@work - Aktivasi Brand dalam Genggaman. #blogspot
Aktivasi Brand dalam Genggaman

 

Menurut data yang diperoleh dari Markplus Insight penggunaan internet di Indonesia pada tahun 2011 sudah mencapai 55 juta orang yang meningkat sebelumnya dari 42 juta orang. Dari angka ini, sekitar 57,4% atau sekitar 29 juta adalah pengguna mobile.

Jumlah pengguna mobile yang fantastis ini tentunya merupakan indikator tingginya penggunaansmartphone di Indonesia. Beberapa platform smartphone yang hadir di Indonesia antara lain BlackBerry, Apple dan Android. Smartphone tersebut memberikan fitur dan sensasi yang berbeda kepada konsumen untuk menggunakannya. Namun pada dasarnya penggunaan smartphonetersebut digunakan untuk menunjang aktivitas sehari-hari konsumen yang “go mobile”.

Sedangkan berdasarkan data yang diperoleh dari Global StatCounter (Maret 2012 – Maret 2013), Operating System (OS) Android mengalami peningkatan yang tajam. Hal ini dikarenakan berkembangnya berbagai macam device, mulai dari tablet dengan harga murah sampai dengansmartphone high end dengan berbagai macam fitur yang menggoda.

idea@work - Aktivasi Brand dalam Genggaman. #blogspot
Aktivasi Brand dalam Genggaman

Seiring peningkatan pengguna smartphone, pengguna social media pun turut bertambah. Dengan meningkatnya kualitas hardware ditambah dengan semakin terjangkaunya harga smartphone,masyarakat semakin mudah mengakses social media di manapun, kapanpun. Efeknya pun mudah dilihat. Tentu Anda sudah biasa melihat foto-foto makanan mencemari timeline Twitter Anda, bukan? Atau rekan-rekan Anda yang menggunakan Foursquare atau Path untuk check-in di café-café? Itulah bukti betapa membuminya penggunaan smartphone sekarang ini.

idea@work - Aktivasi Brand dalam Genggaman. #blogspot
Aktivasi Brand dalam Genggaman

Dalam social media campaign sering dikenal istilah Brand Activation, sebagai strategi agar brand dapat meningkatkan loyalitas konsumen. Umumnya aktivitas dari Brand Activation ini ditandai dengan diadakannya berbagai kontes pada social media seperti Facebook atau Twitter.

Sebagian besar brand sudah banyak yang menggunakan social media sebagai media untuk mendekatkan diri dengan konsumen melalui berbagai macam campaign. Hal ini sejalan dengan kredo yang disampaikan oleh Hermawan Kartajaya dalam bukunya yang berjudul “Marketing 3.0: From Products to Customers to the Human Spirit”, yang menyebutkan bahwa sebuah brand harus mempunyai “human spirit”, yaitubrand juga harus bisa bertindak sebagai “manusia” atau “teman” oleh konsumen sehingga konsumen merasakan bahwa mereka juga membutuhkan brand tersebut.

Namun, apakah social media campaign saja cukup? Dengan berkembangnya smartphone di tanah air saat ini seharusnya terbuka peluang agar brand dapat melakukan ekspansi untuk menggunakan smartphone sebagai salah satu tool untuk melakukan Brand Activation.

Lalu bagaimana agar smartphone tersebut dapat menjadi marketing tool yang baik? Jika pertanyaan tersebut muncul dibenak Anda, silakan kembali ke paragraf sebelumnya tentang mobilitas dan human spirit. Pada dasarnya Anda harus dapat menggabungkan dua elemen tersebut agar Brand Activation Anda menggunakan smartphone berhasil. Tentunya dengan menggunakan smartphone tersebut Anda diharuskan membuat sebuah aplikasi yang berkaitan dengan Brand Activation dan brand Anda sendiri.

Saya ambil contoh, Oreo menggunakan mobile games “Twist Lick Dunk” untuk melakukan aktivitascampaign-nya. Tentunya slogan tersebut tidak asing lagi di telinga kita, jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia berupa “diputer dijilat terus dicelupin deh”. Mobile games ini mempunyai gameplay yang serupa dengan Fruit Ninja lalu dikombinasikan dengan identitas brand Oreo sehingga efeknya konsumen akan lebih faham bagaimana merasakan sensasi untuk menikmati Oreo. Selain itu, pada games tersebut konsumen dapat memperoleh skor yang nantinya akan ditukarkan (atau dibelanjakan) dengan produk Oreo lainnya. Di sini terdapat aktivitas konsumenaware terhadap produk Oreo dan tertarik untuk mencoba produk yang sudah ada ataupun produk baru dari Oreo.

 

Lain halnya dengan brand dalam negeri Tri yang saat ini merilis sebuah aplikasi bernama “BimaTri”. Aplikasi tersebut mempunyai fitur utama untuk mengingatkan konsumen untuk mengisi ulang ketika kuota sudah mencapai batas atau ketika masa tenggang akan berakhir. Tri sangat cerdik melihat potensi tersebut karena saat ini belum ada aplikasi serupa di pasaran Indonesia. Selain itu, terdapat juga fitur lain seperti profile, isi ulang dan tips & trick. Data yang saya dapat ketika melihat aplikasi tersebut di Google Play Store, sudah diunduh sekitar 500.000 kali dengan jumlah review mencapai 1,856 reviewers (diakses pada tanggal 2 April 2013, pukul 15:47).

idea@work - Aktivasi Brand dalam Genggaman. #blogspot
Aktivasi Brand dalam Genggaman

Dengan melihat potensi penggunaan smartphone di Indonesia saat ini tentunya terbuka peluang yang sangat lebar untuk brand atau agency untuk menentukan langkah Brand Activation yang menarget pengguna smartphone secara spesifik. Langkah ini bisa saja dengan merilis mobile games (advergames) atau aplikasi yang dapat memanjakan konsumen untuk menunjang aktivitas sehari-hari tanpa menghilangkan identitas dari brand itu sendiri.

Nah, para pemasar, sudah smartphone-ready-kah Brand Activation Anda? ;)

note: tulisan ini telah dimuat di Trenologi tanggal 10 April 2013.

Categories
Digital Campaign Facebook Social Media Technology Twitter

Mengenal Buzzer: Undercover Marketer

idea@work - Mengenal Buzzer: Undercover Marketer #blogspot
Mengenal Buzzer: Undercover Marketer

 

Pada artikel sebelumnya, telah kita bahas betapa rajinnya orang Indonesia berkicau di dunia maya. Sejak diluncurkan tahun 2006 oleh Biz Stone, Evan Williams, dan Jack Dorsey, Twitter, menurut Media Bistro pada awal 2012 sudah mencapai 500.000.000 pengguna di seluruh dunia. Dari sekitar setengah milliar pengguna itu, menurut Semiocast Indonesia berada di urutan ke lima dengan hampir 30.000.000 akun yang dibuat berdasarkan hasil perhitungan hingga Juli 2012, dengan pengguna asal Jakarta dan Bandung yang paling ramai berkicau.

Angka yang fantastis? Memang. Ketika begitu banyak orang berkumpul pada satu media, pengiklan akan datang seperti serangga mengerubuti lampu. Beberapa cara ditempuh,antara lain membaut akun perusahaan yang mencoba melakukan engagement terhadap konsumen/calon konsumen. Namun ada cara lain yang cukup menarik.

Charles Buchwalter, CEO Nielsen Japan, menyebutkan bahwa media sosial menjadi salah satu referensi bagi orang untuk memilih produk yang akan dibeli. Yang menarik adalah, masyarakat Asia Pasifik dinilai lebih peka terhadap rekomendasi orang-orang “dekat”-nya.

Apakah ini terkait dengan hubungan sosial ke-Timuran yang relatif lebih kental dibandingkan budaya Barat? Mungkin saja. Yang jelas, pengiklan menemukan cara yang lebih ramah di mata konsumen: Buzzer.

Umumnya Buzzer adalah seorang pengguna Twitter dengan followers yang berlimpah. Saking besarnya jumlah “pengikut” ini, mereka juga kerap dikenal sebutan “selebtwit” alias selebritis Twitter. Buzzer biasanya berperan sebagai pemberi rekomendasi dan product knowledgemengenai produk-produk yang mereka iklankan dengan cara meng-tweet informasi-informasi tersebut di akun Twitter mereka. Dengan jumlah followers dan keluwesan buzzer dalam beriklan, pesan dan promosi yang disampaikan kemungkinan besar akan semakin banyak diterima oleh para pengguna lain.

Apakah penggunaan buzzer untuk promosi produk cukup efektif dalam sebuah aktivitas pemasaran? Hal ini akan kembali kepada beberapa hal: kelengkapan product knowledge dan materi pendukung lainnya, goal akhir yang diharapkan dari buzzer, jenis buzzer yang diajak kerja sama, dan – hal terklise sedunia – berapa budget yang bersedia perusahaan keluarkan untuk promosi.

Lebih jauh lagi, berikut beberapa hal yang perlu dipertimbangkan oleh pemasar, sebelum menggunakan buzzer dalam aktivitas pemasarannya:

  • Kenali followers dari buzzer yang hendak digunakan merupakan tugas pertama. Hal ini akan menentukan kecocokan antara pangsa pasar yang dituju oleh sebuah produk dengan audiensnya. Aneh kan kalau followers kebanyakan berusia 13-20 tahun, kemudian akun tersebut ngebuzz tentang asuransi pensiun, misalnya.
  • Kenali gaya bahasa dan keunikan persona buzzer dalam berkomunikasi. Hal ini akan membantu untuk nyambung dengan audiens yang telah terbentuk alias followers.Biasanya pemasar memang akan menyediakan sebuah brief bagi buzzer yang digunakan, namun sebaiknya pemasar tetap membiarkan kebebasan bagi buzzer untuk berkreasi dan berkomunikasi dengan gaya bahasanya masing-masing supaya tetap terbaca akrab oleh para followers mereka.
  • Selama masa promosi dan kadang setelahnya, buzzer akan dianggap sebagai perwakilan perusahaan secara tidak langsung. Maka tidak jarang buzzer menerima pertanyaan-pertanyaan men-detail tentang produk yang mereka komunikasikan. Maka ada pemasar harus memastikan bahwa buzzer memang siap dan telah membekali diri dengan materiproduct knowledge yang lengkap.
  • Buzzer yang dikenal sukses (dalam konteks buzzer berhasil berinteraksi dan menyampaikan produk secara luas) itu tidak murah. Bahkan beberapa terhitung sangat mahal. Pertimbangkanlah, apakah nilai tersebut sesuai dengan tujuan akhir promosi. Pastikan bahwa segala sesuatunya terkuantifikasi dengan parameter yang telah ditetapkan sebelumnya.
  • Untuk meriset, menghubungi, hingga me-manage pekerjaan buzzer juga bukan perkara mudah dan biasanya memakan waktu. Apalagi bila dibutuhkan banyak buzzer dalam satu masa promosi. Di sini biasanya buzzer management berperan. Mereka akan membantu perusahaan mengidentifikasi buzzer yang tepat dan mengatur pekerjaannya supaya sesuai dengan pesan dan arahan pemasar. Dengan demikian alokasi sumber daya perusahaan bisa dioptimalkan untuk hal lainnya.

Demikian beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum Anda bekerjasama dengan seorangbuzzer. Terlepas dari semua pro kontra yang ada mengenai topik ini, pengaruh opinion leaderdalam sebuah proses komunikasi memang tidak terbantahkan. So, apakah perusahaan Anda tertarik untuk menggunakan jasa buzzer?

note: tulisan ini telah dimuat di Trenologi tanggal 27 Maret 2013.

Categories
Public Relation Social Media Technology Twitter

Customer Service di Twitter

idea@work - Customer Service di Twitter. #blogspot
Customer Service di Twitter

Beberapa brand menggunakan akun Twitter-nya untuk berbagi info, membuat kuis, atau sekedarngobrol dengan para pelanggannya. Pendeknya, hanya sekedar “berhubungan” dengan para pelanggannya. Para pelanggan umumnya me-mention akun brand untuk bertanya, menjawab kuis, atau sekedar menyebut saja, seperti contoh di bawah:

idea@work - Customer Service di Twitter. #blogspot
Customer Service di Twitter

Pada contoh di atas, pelanggan mengatakan bahwa ia sedang menikmati hidangan di sebuah restoran. Akun seperti ini lazim dijumpai di bisnis hospitality seperti F&B.

Brand lainnya mengambil langkah yang lebih berani: Online Customer Service, via media sosial. Mereka menerima keluhan dan pertanyaan melalui media sosial (kali ini saya akan membahas Online CS di Twitter saja), selayaknya call center yang sudah lebih dahulu hadir untuk mengakomodasi kebutuhan pelanggan akan layanan pelanggan yang mudah diakses. Berbagaibrand ini umumnya merupakan brand jasa dengan produk yang lekat dengan kehidupan konsumen berusia remaja hingga dewasa muda, seperti telekomunikasi dan perbankan.

Para brand menganggap langkah ini sebagai langkah yang revolusioner; mereka akan mampu menjawab keluhan pelanggan dengan biaya minimal. Pendaftaran akun baru di Twitter benar-benar bebas biaya, minus biaya koneksi internet tentunya.

Perkenankan saya mengambil contoh dari luar negeri untuk memperlihatkan kekuatan Twitter pada Anda.

idea@work - Customer Service di Twitter. #blogspot
Customer Service di Twitter

Sir Patrick Stewart, seorang aktor asal Inggris (Anda mungkin mengenalnya sebagai pemeran Captain Picard di Star Trek: The Next Generation dan Professor Xavier di beberapa film X-Menterdahulu)mem-post sebuah tweet tentang “kehilangan hasrat untuk hidup” setelah menunggu lebih dari 36 jam agar Time Warner Cable (TWC), perusahaan televisi berbayar terkemuka di Amerika Serikat, dapat memasang layanan di apartemen barunya. Meski terlihat pihak TWC sendiri telah membalas tweet tersebut, hal itu rupanya terlambat; tweet Stewart tersebut telah di-retweet sebanyak hampir 1800 kali dan mendapat reply yang tidak kalah banyaknya. Dengan respon publik seperti itu, tidak terhitung berapa banyak orang yang akhirnya mengetahui soal aib TWC ini.

Tidak selamanya Customer Service di Twitter buruk. Contoh positif dapat dibaca pada artikel ini. Secara garis besar, artikel tersebut berisi tentang kisah Peter Shankman, seseorang yang iseng mem-post sebuah tweet ke Mortons (gerai steak terkemuka di Amerika Serikat), meminta Morton mengantarkan steak kepadanya ke bandara agar siap disantap begitu ia mendarat.

idea@work - Customer Service di Twitter. #blogspot
Customer Service di Twitter
idea@work - Customer Service di Twitter. #blogspot
Customer Service di Twitter

Tanpa berharap banyak, Shankman punmenjalani perjalanan dengan biasa saja; namun alangkah terkejutnya ia ketika ia menemukan seseorang dari Morton benar-benar membawakannya makanan. Shankman pun kembali mem-post pengalaman ini ke Twitter, dengan respon yang positif dari followers-nya. Akibat hal ini, tentu Morton mendapat publisitas gratis daritweet-tweet tersebut.

Dari contoh-contoh di atas, terlihat bahwa campaign di media sosial memang dapat menjangkau banyak orang dengan dengan biaya minimal. Maka, citra sebuah brand, baik positif maupun negatif, dapat menyebar secara luas dengan waktu yang relatif cepat.

Tingkah laku pengguna Twitter ini lebih lanjut ditelaah dengan sebuah studi yang dilakukanAmerican Express. Studi ini menunjukkan betapa sensitifnya para pengguna media sosial akan kualitas customer service. Studi itu menunjukkan bahwa para rata-rata pengguna sosial media menceritakan pengalaman positif akan konsumsi suatu produk kepada 42 orang, dibandingkan dengan non-pengguna yang hanya akan bercerita pada 9 orang saja. Para pengguna media sosial ini juga bersedia membayar 21% lebih banyak kepada produk yang menawarkan customer service yang baik.

Efek yang tak kalah hebat akan terlihat pada pengalaman negatif, 83% pengguna media sosial akan membatalkan pembelian jika tidak mendapat customer service yang memadai, dan akan menceritakan pengalaman buruknya kepada 53 orang (non-pengguna media sosial hanya akan bercerita pada 17 orang).

Melihat fakta-fakta di atas, masihkah Anda, para pemasar, berniat membuat akun Twitter untukbrand Anda? Siapkah Anda dengan segala konsekuensinya? Yakinkah Anda bahwa Anda telah memilih orang-orang yang tepat untuk meng-handle kegiatan brand campaign Anda di sosial media? Sudahkah Anda memiliki konsep dan prosedur operasional yang baik agar kegiatancampaign Anda dapat terlaksana secara sistematis? Renungkan sejenak hal-hal di atas agarsocial media campaign Anda tidak menjadi suatu aksi bunuh diri.

note: tulisan ini telah dimuat di Trenologi tanggal 20 Maret 2013.

Categories
Digital Campaign Social Media Technology Twitter

Ketika Bisnis “Bermain” Twitter

idea@work - Ketika Bisnis “Bermain” Twitter #blogpost
Ketika Bisnis “Bermain” Twitter

Twitter nampaknya sudah menjadi aktivitas utama dalam berkomunikasi di Indonesia. Batasan berekspresi sepanjang 140 karakter tidak lantas membuat orang enggan untuk menggunakan media sosial berlogo burung ini. Malah, hal ini justru dipandang sebagai tantangan agar para penggunanya lebih kreatif dalam menyusun kata dan huruf. Tak heran, Twitter juga kemudian melabelkan dirinya sebagai “microblogging service” alias blog dalam bentuk yang lebih pendek/mikro.

Sejak popularitas Twitter melambung, beberapa diksi baru pun muncul dalam pecakapan sehari-hari. Mention, avatar, retweet, timeline, RT, follow/unfollow, dan lain-lain, menjadi indikator betapa sudah membuminya Twitter di benak penggunanya.

Cara kerja dan UI yang simpel dan mobile-friendly juga membuat penggunanya semakin giat untuk membagi kegiatan sehari-harinya di Twitter, bahkan merevolusi cara kita berkomunikasi dan berbagi.

Bersamaan dengan semakin derasnya aliran informasi yang beredar di dalamnya, kini Anda bisa menjumpai bahasan mengenai perencanaan keuangan, humor, foto hewan peliharaan, tips percintaan, hingga pantauan lalu lintas – semuanya dalam satu halaman. Anda bahkan dapat melakukannya sambil me-mention teman atau SelebTweet favorit Anda.

Salah satu hal yang juga banyak di-post seseorang di Twitter adalah review. Bukan suatu ulasan terpadu yang biasa Anda jumpai di surat kabar, namun lebih berupa citizen review yang diungkapkan dengan singkat dan menggunakan bahasa yang sangat akrab di telinga (atau dalam hal ini, mata?).

Berikut adalah salah satu contohnya:

idea@work - Ketika Bisnis “Bermain” Twitter #blogpost
Ketika Bisnis “Bermain” Twitter

Ditulis layaknya rekomendasi dari sahabat Anda, perbedaannya semua orang dapat mengakses tweet ini (dengan catatan akun tersebut tidak di-set private). Tweet tersebut biasanya akan dibalas dengan, “Di mana?” atau “Ajak-ajak dong”.

Dengan membanjirnya iklan di ruang pribadi kita, dibandingkan dengan ulasan berbayar dimana pemilik restoran membayar pihak media untuk menulis ulasan positif, banyak orang yang akhirnya jauh lebih percaya dengan ulasan singkat seperti di atas. Klaim ini didukung oleh hasil studi olehNielsen yang menyebutkan bahwa tingkat kepercayaan rata-rata orang terhadap berbagai bentuk iklan hanya sebesar kurang dari 50%, namun tingkat kepercayaan terhadap rekomendasi yang diberikan oleh orang yang mereka kenal (peer recommendation) dapat mencapai 92%.

Tentu saja, aliran informasi adalah habitat alami para marketer. Anda sendiri bisa melihat di baliho/reklame/spanduk di jalanan, banyak brand/perusahaan sudah mencantumkan nama Facebook Page dan Twitter-nya. Dengan dua media tersebut, para pemasar berharap akan mampu meraih awareness publik dan membentuk engagement yang dapat berujung pada loyalitas pelanggan atau datangnya insight yang berguna bagi para pemasar itu sendiri.

idea@work - Ketika Bisnis “Bermain” Twitter #blogpost
Ketika Bisnis “Bermain” Twitter

Social Media Report 2012 mengungkapkan bahwa di kawasan Asia-Pasifik, tingkat pengembilan keputusan pembelian (buying decision) berdasarkan informasi dari media sosial dapat mencapai lebih dari 50%. Hal ini tentu merupakan salah satu alasan mengapa para pemasar mengadakancampaign di media sosial, terutama mereka yang memasarkan produk bagi segmen usia remaja hingga dewasa muda.
Data lainnya dari Semiocast mengungkapkan Indonesia termasuk dalam 10 besar negara dengan jumlah pengguna terbesar di dunia.

Menariknya, masih dari sumber yang sama, Jakarta dan Bandung tercatat sebagai 2 kota di Indonesia dengan penduduk yang paling doyan nge-tweet dibandingkan kota lainnya. Menyumbang sekitar total 3,7% dari traffic Twitter secara global, Jakarta sendiri menjadi kota teraktif mengalahkan kota-kota di Amerika Serikat, negara asal Twitter.

Dengan fakta tersebut, jelas menjadi kewajaran bagi marketer di Indonesia untuk menerapkan Social Media Marketing, dengan Twitter menjadi salah satu tools utama yang dapat dimanfaatkan.

Adalah PR para pemasar untuk mempengaruhi opini publik terhadap brand-nya dengan berbagai cara, dan Twitter memiliki keunikan sekaligus kekuatan yang menekankan pada komunikasi 2 arah dan pembentukan “loyalis” yang, seperti contoh di atas, mampu menulis sebuah ulasan positif dan memberikan rekomendasi kepada peer-nya. Lebih jauh dari itu, loyalis ini bahkan dapat menjadispoke person alias perwakilan brand, yang dapat merespon keluhan hingga pencarian product knowledge calon customer. Para pembacanya pun akan mendapat kesan bahwa mereka tidak berada dalam suatu upaya pemasaran brand, meskipun kenyataannya tidak demikian.

Berdasarkan seluruh fakta dan dengan segala benefit yang dapat diperoleh diatas, pertanyaan besarnya adalah: apakah brand Anda sudah memanfaatkannya?

note: tulisan ini telah dimuat di Trenologi tanggal 13 Maret 2013.

Categories
Digital Campaign Public Relation

Digital PR dan Teknologi: Studi Kasus McDonald’s TrackMyMacca’s

idea@work - Digital PR dan Teknologi: Studi Kasus McDonald’s TrackMyMacca’s
Digital PR dan Teknologi: Studi Kasus McDonald’s TrackMyMacca’s

Brand apa yang pertama kali terlintas di benak Anda jika seseorang bertanya mengenai ‘makanan siap saji’ kepada Anda? Jika pertanyaan tersebut terlontar pada saya, maka brand yang pertama terlintas di benak saya adalah McDonald’s. Ya, McDonald’s adalah sebuah brand untuk restoran makanan siap saji yang sepertinya sudah sangat melekat di benak banyak orang di dunia. Bagaimana tidak? Selain karena rasa makanannya yang mampu menggoyang lidah, McDonald’s merupakan salah satu restoran makanan siap saji dengan wilayah operasional waralaba terluas di dunia, termasuk di Indonesia.

“Makanan siap saji adalah istilah untuk makanan yang dapat disiapkan dan dilayankan dengan cepat. Sementara makanan apapun yang dapat disiapkan dengan segera dapat disebut makanan siap saji, biasanya istilah ini merujuk kepada makanan yang dijual di sebuah restoran atau toko dengan persiapan yang berkualitas rendah dan dilayankan kepada pelanggan dalam sebuah bentuk paket untuk dibawa pergi.” [Sumber].

Layaknya image makanan cepat saji pada umumnya, yang juga menjadi persoalan bagi restoran makanan siap saji sekelas McDonald’s, yaitu makanan siap saji identik dengan makanan yang dipersiapkan dengan kualitas rendah. Image yang telah tertanam sejak munculnya istilah fast food, yang juga memunculkan istilah junk food, inilah yang membantuk ketidakpercayaan konsumen bahwa bahan-bahan yang digunakan oleh McDonald’s bukan bahan-bahan yang segar, tidak bersumber secara lokal dan bukan berasal dari bahan-bahan dengan kualitas yang layak untuk dikonsumsi.

Masalah yang berkaitan dengan ketidakpercayaan konsumen akan mutu dari bahan dasar produk McDonald’s ini dihadapi oleh semua waralaba McDonald’s yang tersebar hampir diseluruh dunia. Rasa ketidakpercayaan ini semakin menguat setelah dirilisnya sebuah film dokumenter berjudul ‘Super Size Me’ di tahun 2004 besutan Morgan Spurlock. Film independen tersebut mendokumentasikan periode 30 hari (Februari hingga Maret 2003) dimana sang sutradara hanya mengkonsumsi McDonald’s, yang berpengaruh drastis terhadap fisik dan psikologi Spurlock. Film ini juga mendedah industri makanan cepat saji, termasuk bagaimana mereka menggunakan nutrisi rendah untuk menarik keuntungan sebesar-besarnya. Selama pembuatan film, Spurlock makan di restoran McDonald’s tiga kali sehari. Sebagai akibatnya, berat badan Spurlock bertambah sebanyak 11.1 kg, mengalami disfungsi seksual dan kerusakan hati yang menyebabkan Spurlock membutuhkan waktu empat belas bulan untuk pulih dari pengaruh tersebut. Sebuah fakta yang cukup mengerikan bukan?

Tentu saja hal ini menjadi sebuah pukulan telak bagi McDonald’s. Berbagai cara pun ditempuh oleh brand waralaba makanan siap saji ini untuk memulihkan rasa ketidakpercayaan konsumennya. Beberapa upaya yang cukup menarik perhatian adalah di sekitar bulan Desember 2011, McDonald’s US membuat sebuah video berjudul ‘McDonald’s Beef Supplier, Steve Foglesong: “Raising Cattle and a Family”’. Video yang dimuat di YouTube resmi McDonald’s ini menjelaskan mengenai sebuah peternakan sapi yang menjadi supplier daging sapi resmi dari McDonald’s yang pada prosesnya senantiasa menjunjung kualitas daging sapi yang mereka kembangbiakkan.

Pada bulan Juni 2012, McDonald’s Kanada, membuat sebuah video yang berjudul ‘What’s in the secret sauce of the Big Mac?’ sebagai sebuah usaha strategi transparansi untuk menjelaskan kepada para penonton video bahwa saus yang disajikan McDonald’s tidak jauh berbeda dengan saus yang kita buat sehari-hari di rumah. McDonald’s yang beroperasi di Australia pun turut andil dalam usaha ini dengan membuat sebuah film dokumenter bertajuk ‘McDonald’s Gets Grilled’ yang ditayangkan di sebuah channel tv lokal Australia. Film dokumenter ini bercerita tentang McDonald’s dan makanan yang disajikannya berdasarkan pengalaman dari enam orang warga Australia biasa yang secara khusus diundang untuk menyelidiki bagaimana bahan dasar makanan McDonald’s ditanam, diproses, sampai disajikan di toko dan sampai pada piring konsumen.

Beberapa upaya lain yang juga ditempuh oleh McDonald’s adalah dengan turut menginformasikan bahan dasar tiap produk dan kandungan nutrisi dari tiap menu yang diproduksi di web-nya. Untuk menggenapinya, McDonald’s juga menyusun strategi transparansi melalui sosial media, misalnya dengan membuat campaign #MeetTheFarmers dan #McDStoriesvia Twitter. Namun, unfortunately, berbagai upaya tersebut masih belum mampu menyurutkan berbagai persepsi negatif yang mewarnai brand makanan siap saji ini. Bahkan campaign #McDStories malah menjadi bumerang, diakibatkan banyaknya konsumen yang mengeluh dan menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap McDonald’s dengan menggunakan hashtag tersebut.

McDonald’s tak menyerah sampai disitu. Menyikapi berbagai rasa ketidakpercayaan dan ketidakpuasan dari konsumen tersebut, restoran waralaba McDonald’s yang beroperasi di Australia memutuskan untuk meluncurkan campaign terbaru mereka. Dengan menggunakan teknologi Augmented Reality, McDonald’s kembali melakukan usaha PR melalui sebuah aplikasi yang bernama ‘TrackMyMacca’s’, seperti yang dipaparkan dalam sebuah mini video berikut :

‘TrackMyMacca’s’ yang secara resmi diluncurkan pada tanggal 17 Januari 2013, adalah sebuah aplikasi gratis yang dapat diunduh di Apple App Store untuk kemudian digunakan di iPhone para penggunanya. Dengan aplikasi ini target audiencemereka akan disuguhkan sebuah perjalanan virtual ‘behind the scenes’ menu makanan yang biasa McDonald’s sajikan, mulai dari penjelasan mengenai darimana sumber makanan berasal, hingga penjelasan mengenai rantai pasokan untuk bahan dasar dari menu-menu yang disajikan di McDonald’s.

Semua informasi tersebut bisa Anda saksikan langsung di meja makan melalui iPhone sebagai medianya. Aplikasi ini menggabungan teknologi ‘image recognition’, GPS, ‘real date/time’ dan Augmented Reality, yang secara keseluruhan tentunya memberikan informasi yang menarik dan interaktif untuk disaksikan oleh konsumen selagi menikmati makanan mereka di gerai McDonald’s.

idea@work - Digital PR dan Teknologi: Studi Kasus McDonald’s TrackMyMacca’s
Digital PR dan Teknologi: Studi Kasus McDonald’s TrackMyMacca’s

Aplikasi ‘TracMyMacca’s’ menjadi bagian dari campaign McDonald’s Australia yang sosialisasinya juga tentu tak lepas dari jejaring sosial terbesar saat ini yaitu Facebook. Berdasarkan keterangan dari laman Facebook McDonald’s Australia, aplikasi ‘TrackMyMacca’s’ ini hanya bisa digunakan selama kurang lebih 5 bulan, yaitu semenjak 16 Januari sampai dengan 30 Juni 2013. Selain dapat digunakan di iPhone (3GS, 4, 4S dan 5), aplikasi ini dapat pula digunakan pada iPod touch (4th Generation), iPad (2, 3rd and 4th generation) dan new iPad Mini, dengan sistem operasi iOS 4, iOS 5 atau iOS 6 yang terinstall pada device tersebut.

idea@work - Digital PR dan Teknologi: Studi Kasus McDonald’s TrackMyMacca’s
Digital PR dan Teknologi: Studi Kasus McDonald’s TrackMyMacca’s

Aplikasi ‘TrackMyMacca’s’ juga terhubung dengan Facebook pribadi para penggunanya, sehingga pengguna aplikasi ini dapat berbagi mengenai pengalaman mereka di Facebook wall dan dapat mengajak teman-teman Facebooknya untuk melakukantracking menu McDonald’s favoritnya dengan menggunakan aplikasi yang sama. Menghubungkan antara aplikasi dengan Facebook share adalah salah satu upaya untuk meningkatkan keberhasilan dari suatu campaign. Dengan Facebookshare, misi McDonald’s untuk menyampaikan pesan bisa lebih tersebar luas secara viral.

idea@work - Digital PR dan Teknologi: Studi Kasus McDonald’s TrackMyMacca’s
Digital PR dan Teknologi: Studi Kasus McDonald’s TrackMyMacca’s

Dengan pendekatan seperti ini akankah McDonald’s mampu mengembalikan kepercayaan dari konsumennya? Terdapat beberapa key component yang membuat campaign ini memiliki kemungkinan berhasil yang besar, salah satunya adalah dengan penyebaran aplikasi iPhone secara gratis yang dapat dengan mudah diunduh langsung dari devicepenggunanya.

Juga turut memberikan andil, tampilan virtual yang interaktif dan realtime sehingga memungkinkan konsumen untuk mengetahui sumber bahan dasar dari menu McDonald’s yang mereka konsumsi kapanpun mereka inginkan. Selain itu, penggunaan aplikasi mobile yang terintegrasi dengan jejaring sosial adalah sebuah upaya pendekatan personal yang tentunya dapat meningkatkan arus informasi secara transparan dan tersampaikan secara viral di sosial media.

Secara keseluruhan, ide pengembangan aplikasi ‘TrackMyMacca’s’ ini merupakan usaha pendekatan yang baik dari sebuahbrand yang ingin memberikan penjelasan mengenai suatu produk kepada konsumennya. Melalui aplikasi interaktif ini McDonalds’s membuat konsumen mencari jawaban atas rasa penasaran mereka mengenai proses produksi dari menu-menu yang disajikan di McDonald’s dengan cara yang menyenangkan dan lebih personal.

Gabungan antara teknologi, informasi, dan tidak melupakan integrasi antara aplikasi dan jejaring sosial seperti Facebook, tentu saja ini adalah sebuah cara yang brilian bagi brand untuk memadukan antara produk-produk yang dihasilkan dan pegalaman konsumen di dunia offline dengan menggunakan teknologi online. Yang menjadi pertanyaan tinggal bagaimana eksekusi campaign ini akan dijalankan, karena jujur saja: idea is cheap! Selama teknis eksekusi belum mampu mengimbangi dahsyatnya sebuah ide, maka usaha digital PR ini dapat gagal kapan saja.

Bagaimana menurut Anda?

note: tulisan ini telah dimuat di Trenologi dalam 2 bagian (bagian 1 dan bagian 2).