Ketika Bisnis “Bermain” Twitter

idea@work - Ketika Bisnis “Bermain” Twitter #blogpost
Ketika Bisnis “Bermain” Twitter

Twitter nampaknya sudah menjadi aktivitas utama dalam berkomunikasi di Indonesia. Batasan berekspresi sepanjang 140 karakter tidak lantas membuat orang enggan untuk menggunakan media sosial berlogo burung ini. Malah, hal ini justru dipandang sebagai tantangan agar para penggunanya lebih kreatif dalam menyusun kata dan huruf. Tak heran, Twitter juga kemudian melabelkan dirinya sebagai “microblogging service” alias blog dalam bentuk yang lebih pendek/mikro.

Sejak popularitas Twitter melambung, beberapa diksi baru pun muncul dalam pecakapan sehari-hari. Mention, avatar, retweet, timeline, RT, follow/unfollow, dan lain-lain, menjadi indikator betapa sudah membuminya Twitter di benak penggunanya.

Cara kerja dan UI yang simpel dan mobile-friendly juga membuat penggunanya semakin giat untuk membagi kegiatan sehari-harinya di Twitter, bahkan merevolusi cara kita berkomunikasi dan berbagi.

Bersamaan dengan semakin derasnya aliran informasi yang beredar di dalamnya, kini Anda bisa menjumpai bahasan mengenai perencanaan keuangan, humor, foto hewan peliharaan, tips percintaan, hingga pantauan lalu lintas – semuanya dalam satu halaman. Anda bahkan dapat melakukannya sambil me-mention teman atau SelebTweet favorit Anda.

Salah satu hal yang juga banyak di-post seseorang di Twitter adalah review. Bukan suatu ulasan terpadu yang biasa Anda jumpai di surat kabar, namun lebih berupa citizen review yang diungkapkan dengan singkat dan menggunakan bahasa yang sangat akrab di telinga (atau dalam hal ini, mata?).

Berikut adalah salah satu contohnya:

idea@work - Ketika Bisnis “Bermain” Twitter #blogpost
Ketika Bisnis “Bermain” Twitter

Ditulis layaknya rekomendasi dari sahabat Anda, perbedaannya semua orang dapat mengakses tweet ini (dengan catatan akun tersebut tidak di-set private). Tweet tersebut biasanya akan dibalas dengan, “Di mana?” atau “Ajak-ajak dong”.

Dengan membanjirnya iklan di ruang pribadi kita, dibandingkan dengan ulasan berbayar dimana pemilik restoran membayar pihak media untuk menulis ulasan positif, banyak orang yang akhirnya jauh lebih percaya dengan ulasan singkat seperti di atas. Klaim ini didukung oleh hasil studi olehNielsen yang menyebutkan bahwa tingkat kepercayaan rata-rata orang terhadap berbagai bentuk iklan hanya sebesar kurang dari 50%, namun tingkat kepercayaan terhadap rekomendasi yang diberikan oleh orang yang mereka kenal (peer recommendation) dapat mencapai 92%.

Tentu saja, aliran informasi adalah habitat alami para marketer. Anda sendiri bisa melihat di baliho/reklame/spanduk di jalanan, banyak brand/perusahaan sudah mencantumkan nama Facebook Page dan Twitter-nya. Dengan dua media tersebut, para pemasar berharap akan mampu meraih awareness publik dan membentuk engagement yang dapat berujung pada loyalitas pelanggan atau datangnya insight yang berguna bagi para pemasar itu sendiri.

idea@work - Ketika Bisnis “Bermain” Twitter #blogpost
Ketika Bisnis “Bermain” Twitter

Social Media Report 2012 mengungkapkan bahwa di kawasan Asia-Pasifik, tingkat pengembilan keputusan pembelian (buying decision) berdasarkan informasi dari media sosial dapat mencapai lebih dari 50%. Hal ini tentu merupakan salah satu alasan mengapa para pemasar mengadakancampaign di media sosial, terutama mereka yang memasarkan produk bagi segmen usia remaja hingga dewasa muda.
Data lainnya dari Semiocast mengungkapkan Indonesia termasuk dalam 10 besar negara dengan jumlah pengguna terbesar di dunia.

Menariknya, masih dari sumber yang sama, Jakarta dan Bandung tercatat sebagai 2 kota di Indonesia dengan penduduk yang paling doyan nge-tweet dibandingkan kota lainnya. Menyumbang sekitar total 3,7% dari traffic Twitter secara global, Jakarta sendiri menjadi kota teraktif mengalahkan kota-kota di Amerika Serikat, negara asal Twitter.

Dengan fakta tersebut, jelas menjadi kewajaran bagi marketer di Indonesia untuk menerapkan Social Media Marketing, dengan Twitter menjadi salah satu tools utama yang dapat dimanfaatkan.

Adalah PR para pemasar untuk mempengaruhi opini publik terhadap brand-nya dengan berbagai cara, dan Twitter memiliki keunikan sekaligus kekuatan yang menekankan pada komunikasi 2 arah dan pembentukan “loyalis” yang, seperti contoh di atas, mampu menulis sebuah ulasan positif dan memberikan rekomendasi kepada peer-nya. Lebih jauh dari itu, loyalis ini bahkan dapat menjadispoke person alias perwakilan brand, yang dapat merespon keluhan hingga pencarian product knowledge calon customer. Para pembacanya pun akan mendapat kesan bahwa mereka tidak berada dalam suatu upaya pemasaran brand, meskipun kenyataannya tidak demikian.

Berdasarkan seluruh fakta dan dengan segala benefit yang dapat diperoleh diatas, pertanyaan besarnya adalah: apakah brand Anda sudah memanfaatkannya?

note: tulisan ini telah dimuat di Trenologi tanggal 13 Maret 2013.

Digital PR dan Teknologi: Studi Kasus McDonald’s TrackMyMacca’s

idea@work - Digital PR dan Teknologi: Studi Kasus McDonald’s TrackMyMacca’s
Digital PR dan Teknologi: Studi Kasus McDonald’s TrackMyMacca’s

Brand apa yang pertama kali terlintas di benak Anda jika seseorang bertanya mengenai ‘makanan siap saji’ kepada Anda? Jika pertanyaan tersebut terlontar pada saya, maka brand yang pertama terlintas di benak saya adalah McDonald’s. Ya, McDonald’s adalah sebuah brand untuk restoran makanan siap saji yang sepertinya sudah sangat melekat di benak banyak orang di dunia. Bagaimana tidak? Selain karena rasa makanannya yang mampu menggoyang lidah, McDonald’s merupakan salah satu restoran makanan siap saji dengan wilayah operasional waralaba terluas di dunia, termasuk di Indonesia.

“Makanan siap saji adalah istilah untuk makanan yang dapat disiapkan dan dilayankan dengan cepat. Sementara makanan apapun yang dapat disiapkan dengan segera dapat disebut makanan siap saji, biasanya istilah ini merujuk kepada makanan yang dijual di sebuah restoran atau toko dengan persiapan yang berkualitas rendah dan dilayankan kepada pelanggan dalam sebuah bentuk paket untuk dibawa pergi.” [Sumber].

Layaknya image makanan cepat saji pada umumnya, yang juga menjadi persoalan bagi restoran makanan siap saji sekelas McDonald’s, yaitu makanan siap saji identik dengan makanan yang dipersiapkan dengan kualitas rendah. Image yang telah tertanam sejak munculnya istilah fast food, yang juga memunculkan istilah junk food, inilah yang membantuk ketidakpercayaan konsumen bahwa bahan-bahan yang digunakan oleh McDonald’s bukan bahan-bahan yang segar, tidak bersumber secara lokal dan bukan berasal dari bahan-bahan dengan kualitas yang layak untuk dikonsumsi.

Masalah yang berkaitan dengan ketidakpercayaan konsumen akan mutu dari bahan dasar produk McDonald’s ini dihadapi oleh semua waralaba McDonald’s yang tersebar hampir diseluruh dunia. Rasa ketidakpercayaan ini semakin menguat setelah dirilisnya sebuah film dokumenter berjudul ‘Super Size Me’ di tahun 2004 besutan Morgan Spurlock. Film independen tersebut mendokumentasikan periode 30 hari (Februari hingga Maret 2003) dimana sang sutradara hanya mengkonsumsi McDonald’s, yang berpengaruh drastis terhadap fisik dan psikologi Spurlock. Film ini juga mendedah industri makanan cepat saji, termasuk bagaimana mereka menggunakan nutrisi rendah untuk menarik keuntungan sebesar-besarnya. Selama pembuatan film, Spurlock makan di restoran McDonald’s tiga kali sehari. Sebagai akibatnya, berat badan Spurlock bertambah sebanyak 11.1 kg, mengalami disfungsi seksual dan kerusakan hati yang menyebabkan Spurlock membutuhkan waktu empat belas bulan untuk pulih dari pengaruh tersebut. Sebuah fakta yang cukup mengerikan bukan?

Tentu saja hal ini menjadi sebuah pukulan telak bagi McDonald’s. Berbagai cara pun ditempuh oleh brand waralaba makanan siap saji ini untuk memulihkan rasa ketidakpercayaan konsumennya. Beberapa upaya yang cukup menarik perhatian adalah di sekitar bulan Desember 2011, McDonald’s US membuat sebuah video berjudul ‘McDonald’s Beef Supplier, Steve Foglesong: “Raising Cattle and a Family”’. Video yang dimuat di YouTube resmi McDonald’s ini menjelaskan mengenai sebuah peternakan sapi yang menjadi supplier daging sapi resmi dari McDonald’s yang pada prosesnya senantiasa menjunjung kualitas daging sapi yang mereka kembangbiakkan.

Pada bulan Juni 2012, McDonald’s Kanada, membuat sebuah video yang berjudul ‘What’s in the secret sauce of the Big Mac?’ sebagai sebuah usaha strategi transparansi untuk menjelaskan kepada para penonton video bahwa saus yang disajikan McDonald’s tidak jauh berbeda dengan saus yang kita buat sehari-hari di rumah. McDonald’s yang beroperasi di Australia pun turut andil dalam usaha ini dengan membuat sebuah film dokumenter bertajuk ‘McDonald’s Gets Grilled’ yang ditayangkan di sebuah channel tv lokal Australia. Film dokumenter ini bercerita tentang McDonald’s dan makanan yang disajikannya berdasarkan pengalaman dari enam orang warga Australia biasa yang secara khusus diundang untuk menyelidiki bagaimana bahan dasar makanan McDonald’s ditanam, diproses, sampai disajikan di toko dan sampai pada piring konsumen.

Beberapa upaya lain yang juga ditempuh oleh McDonald’s adalah dengan turut menginformasikan bahan dasar tiap produk dan kandungan nutrisi dari tiap menu yang diproduksi di web-nya. Untuk menggenapinya, McDonald’s juga menyusun strategi transparansi melalui sosial media, misalnya dengan membuat campaign #MeetTheFarmers dan #McDStoriesvia Twitter. Namun, unfortunately, berbagai upaya tersebut masih belum mampu menyurutkan berbagai persepsi negatif yang mewarnai brand makanan siap saji ini. Bahkan campaign #McDStories malah menjadi bumerang, diakibatkan banyaknya konsumen yang mengeluh dan menyuarakan ketidakpuasan mereka terhadap McDonald’s dengan menggunakan hashtag tersebut.

McDonald’s tak menyerah sampai disitu. Menyikapi berbagai rasa ketidakpercayaan dan ketidakpuasan dari konsumen tersebut, restoran waralaba McDonald’s yang beroperasi di Australia memutuskan untuk meluncurkan campaign terbaru mereka. Dengan menggunakan teknologi Augmented Reality, McDonald’s kembali melakukan usaha PR melalui sebuah aplikasi yang bernama ‘TrackMyMacca’s’, seperti yang dipaparkan dalam sebuah mini video berikut :

‘TrackMyMacca’s’ yang secara resmi diluncurkan pada tanggal 17 Januari 2013, adalah sebuah aplikasi gratis yang dapat diunduh di Apple App Store untuk kemudian digunakan di iPhone para penggunanya. Dengan aplikasi ini target audiencemereka akan disuguhkan sebuah perjalanan virtual ‘behind the scenes’ menu makanan yang biasa McDonald’s sajikan, mulai dari penjelasan mengenai darimana sumber makanan berasal, hingga penjelasan mengenai rantai pasokan untuk bahan dasar dari menu-menu yang disajikan di McDonald’s.

Semua informasi tersebut bisa Anda saksikan langsung di meja makan melalui iPhone sebagai medianya. Aplikasi ini menggabungan teknologi ‘image recognition’, GPS, ‘real date/time’ dan Augmented Reality, yang secara keseluruhan tentunya memberikan informasi yang menarik dan interaktif untuk disaksikan oleh konsumen selagi menikmati makanan mereka di gerai McDonald’s.

idea@work - Digital PR dan Teknologi: Studi Kasus McDonald’s TrackMyMacca’s
Digital PR dan Teknologi: Studi Kasus McDonald’s TrackMyMacca’s

Aplikasi ‘TracMyMacca’s’ menjadi bagian dari campaign McDonald’s Australia yang sosialisasinya juga tentu tak lepas dari jejaring sosial terbesar saat ini yaitu Facebook. Berdasarkan keterangan dari laman Facebook McDonald’s Australia, aplikasi ‘TrackMyMacca’s’ ini hanya bisa digunakan selama kurang lebih 5 bulan, yaitu semenjak 16 Januari sampai dengan 30 Juni 2013. Selain dapat digunakan di iPhone (3GS, 4, 4S dan 5), aplikasi ini dapat pula digunakan pada iPod touch (4th Generation), iPad (2, 3rd and 4th generation) dan new iPad Mini, dengan sistem operasi iOS 4, iOS 5 atau iOS 6 yang terinstall pada device tersebut.

idea@work - Digital PR dan Teknologi: Studi Kasus McDonald’s TrackMyMacca’s
Digital PR dan Teknologi: Studi Kasus McDonald’s TrackMyMacca’s

Aplikasi ‘TrackMyMacca’s’ juga terhubung dengan Facebook pribadi para penggunanya, sehingga pengguna aplikasi ini dapat berbagi mengenai pengalaman mereka di Facebook wall dan dapat mengajak teman-teman Facebooknya untuk melakukantracking menu McDonald’s favoritnya dengan menggunakan aplikasi yang sama. Menghubungkan antara aplikasi dengan Facebook share adalah salah satu upaya untuk meningkatkan keberhasilan dari suatu campaign. Dengan Facebookshare, misi McDonald’s untuk menyampaikan pesan bisa lebih tersebar luas secara viral.

idea@work - Digital PR dan Teknologi: Studi Kasus McDonald’s TrackMyMacca’s
Digital PR dan Teknologi: Studi Kasus McDonald’s TrackMyMacca’s

Dengan pendekatan seperti ini akankah McDonald’s mampu mengembalikan kepercayaan dari konsumennya? Terdapat beberapa key component yang membuat campaign ini memiliki kemungkinan berhasil yang besar, salah satunya adalah dengan penyebaran aplikasi iPhone secara gratis yang dapat dengan mudah diunduh langsung dari devicepenggunanya.

Juga turut memberikan andil, tampilan virtual yang interaktif dan realtime sehingga memungkinkan konsumen untuk mengetahui sumber bahan dasar dari menu McDonald’s yang mereka konsumsi kapanpun mereka inginkan. Selain itu, penggunaan aplikasi mobile yang terintegrasi dengan jejaring sosial adalah sebuah upaya pendekatan personal yang tentunya dapat meningkatkan arus informasi secara transparan dan tersampaikan secara viral di sosial media.

Secara keseluruhan, ide pengembangan aplikasi ‘TrackMyMacca’s’ ini merupakan usaha pendekatan yang baik dari sebuahbrand yang ingin memberikan penjelasan mengenai suatu produk kepada konsumennya. Melalui aplikasi interaktif ini McDonalds’s membuat konsumen mencari jawaban atas rasa penasaran mereka mengenai proses produksi dari menu-menu yang disajikan di McDonald’s dengan cara yang menyenangkan dan lebih personal.

Gabungan antara teknologi, informasi, dan tidak melupakan integrasi antara aplikasi dan jejaring sosial seperti Facebook, tentu saja ini adalah sebuah cara yang brilian bagi brand untuk memadukan antara produk-produk yang dihasilkan dan pegalaman konsumen di dunia offline dengan menggunakan teknologi online. Yang menjadi pertanyaan tinggal bagaimana eksekusi campaign ini akan dijalankan, karena jujur saja: idea is cheap! Selama teknis eksekusi belum mampu mengimbangi dahsyatnya sebuah ide, maka usaha digital PR ini dapat gagal kapan saja.

Bagaimana menurut Anda?

note: tulisan ini telah dimuat di Trenologi dalam 2 bagian (bagian 1 dan bagian 2).

Digital Tribe: Studi Kasus #firstandforever Campaign

idea@work - Digital Tribe: Studi Kasus #firstandforever Campaign #blogpost
Digital Tribe: Studi Kasus #firstandforever Campaign

The History

idea@work - Digital Tribe: Studi Kasus #firstandforever Campaign #blogpost
Digital Tribe: Studi Kasus #firstandforever Campaign

Mereka yang pernah hidup di tahun 90-an, tentunya tidak asing dengan brand yang satu ini. Sepatu Dr. Martens pernah mewarnai budaya pop Indonesia secara dominan dalam dekade tersebut. Siapa sangka desain sepatu tersebut berawal pada saat seorang dokter Jerman, Klaus Martens, mengalami cedera kaki saat bermain ski. Pada masa pemulihan cederanya, ia mengganti sepatu boot-nya dengan kulit yang lebih lembut dan sol yang lebih empuk dengan bantalan udara karena sepatu boot yang biasa ia kenakan alasnya terlalu keras dan tidak nyaman dipakai.

Boot yang didesain khusus tersebut mulai diproduksi masal pada tahun 1947 dan tanpa disangka, produk baru ini diterima dengan baik di pasar. Boot Doc Martens mendapat respon yang positif, hingga banyak digunakan oleh polisi, tukang pos sampai pekerja pabrik.

Pada akhir tahun 1960-an, sebagai efek dari gerakan politik dan sosial ekonomi di daratan Eropa, komunitas skinhead mulai menggunakan boot Doc Martens sebagai simbol perlawanan anti-kapitalisme, yang berlanjut pada tahun 1970, saat gerakan politik tersebut mulai masuk ke industri musik dan menjadikan boot DocMart sebagai ikon anti-kemapanan. Pada masa itu, sepatu ini populer digunakan oleh musisi punk, ska, psychobillies, goths, industrial, hardcore, straight-edge, glam, hingga new wave. Dengan pengaruh dari para musisi tersebut dan terjadinya british invasion dalam industri musik, boot asal Jerman yang dikenal dengan sebutan Doc Martens, Docs dan DMs ini menginvasi dataran Inggris, Eropa, dan dunia. Desain Docs dengan seri 1460 dan 1461 menjadi dua seri klasik utama dari sekian banyak seri boot Doc Martens.

Di tahun 1990-an, kepopuleran DocMart berkembang memasuki tren mainstream, melampaui sub-kultur punk. Saat brand ini menjadi sebuah industri, sebagian komunitas skinhead yg identik dengan spirit anti-mainstream dan anti-kapitalisme mulai mempertanyakan brand sang dokter. Sebagian dari mereka mulai beralih ke merk pesaing, seperti Grinder, Ranger atau Gripfast. Sadar dengan kondisi ini, Dr. Martens membenahi brand message-nya kembali root, dan membuat sebuah pernyataan kesetiaan terhadap spirit untuk berani berbeda dan menentang arus mainstream, seperti yang terlihat di video berikut:

 

#firstandforever Campaign

Pada bulan Agustus tahun lalu, Dr. Martens meluncurkan campaign bernama #firstandforever. Campaign ini, yang merupakan kelanjutan dari campaign dengan nama sama 1 tahun sebelumnya, menggambarkan “tribal heritage” brand dan berbagi kisah “how to wear” terhadap produk-produknya.

idea@work - Digital Tribe: Studi Kasus #firstandforever Campaign #blogpost
Digital Tribe: Studi Kasus #firstandforever Campaign

Seiring populernya Instagram dan Facebook, Dr. Martens memanfaatkan kekuatan visual kedua platform tersebut dengan membuat tema Share Your Style yang mengharuskan pesertanya untuk mengunggah foto mereka ketika menggunakan produk Dr. Martens dengan ciri khas masing-masing individu.

Untuk ikut serta dalam Share Your Style Contest ini, kita hanya perlu mengunjungi Facebook Page Dr. Martens, dan klik Facebook Apps Share Your Style di dalam page tersebut dan unggah foto style dengan Dr. Martens. Foto yang telah di unggah akan muncul dalam wall Facebook page official Dr. Martens dan dapat di-vote oleh orang di seluruh dunia. Foto tersebut juga dapat di share dalam Facebook pribadi pesertanya. Selain itu, foto Share Your Style Contest juga dapat di unggah melalui media Instagram dengan menggunakan hashtag #firstandforever.

Pendekatan campaign yang melalui media Facebook dan Instagram menjadi sangat pas karena ide dasar “everyone loves to share their moments” merupakan sesuatu yang kontesktual di masa digital. Partisipan diajak untuk mengabadikan momen ketika menggunakan sepatu Dr. Martens pertama atau favoritnya serta cerita dibaliknya, untuk kemudian cerita tersebut dibagikan kepada teman dan fans yang me-like page Dr. Martens di Facebook.

Dalam prosesnya, Dr. Martens fanpage di Facebook telah meraih 603.190 likes dan menghasilkan 46.303 talking about this. Dengan followers nya di Twitter mencapai 95.732 followers (hingga tanggal 21 February 2013). Di Instagram sendiri, foto dengan #firstandforever sudah terkumpul sekitar 5.000 foto.

The Dr. Martens Tribe

Jika dibandingkan dengan campaign-nya tahun 2011, campaign #firstandforever AW12 ini jelas lebih sukses. Pada saat berakhirnya #firstandforever AW11, campaign tersebut mencapai 2 juta view. Sedangkan campaign #firstandforever AW12 ini sudah mencapai lebih dari 2 jutaunique user (belum termasuk dari Facebook dan Twitter) pada saat awal launching.

Walaupun belum diketahui bagaimana hasil penjualan produk Dr. Martens dengan adanya campaign ini, akan tetapi perhatian saya tertarik dengan tema utama yang diusungnya: Tribes!

Ya, Tribes. Meskipun istilah yang dipopulerkan oleh Seth Godin ini sudah sering diulas lengkap dengan berbagai contoh kasusnya, tapi bagi saya tema tribes untuk sebuah brandsepatu memberikan keunikan tersendiri. Pemilihan tema ini menunjukkan bahwa Dr. Martens sadar bahwa produk mereka not just another accessories, dan DocMart sebagai sebuah brandbukan hanya menawarkan style, tapi telah menjadi lifestyle para penggunanya. Berdasar hal tersebut, ditambah sejarah yang membentang dibelakangnya, sadar maupun tidak sadar, Dr. Martens telah menjadi inisiator, ikon dan pemimpin sebuah kultur.

Menurut Seth Godin, Tribe adalah sekelompok orang yang terhubung satu sama lain, terhubung dengan seorang pemimpin dan terhubung pada sebuah ide. Tribe adalah mengenai keyakinan, mengenai gagasan dan komunitas. Menurut Godin, sebuah tribes terbentuk dengan adanya syarat berikut ini: adanya minat yang sama dan media untuk menyatukan minat itu. Di sisi lain, sebuah tribe haruslah bersifat eksklusif, dimana semua selain anggota tribediperakukan sebagai outsider, sehingga insider sebuah tribe merasakan privileges saat menjadi bagian dari tribe tesebut.

idea@work - Digital Tribe: Studi Kasus #firstandforever Campaign #blogpost
Digital Tribe: Studi Kasus #firstandforever Campaign

Dengan pesatnya perkembangan platform media sosial seperti Facebook, Twitter dan Instagram, maka semakin banyaklah pilihan media yang dapat digunakan untuk proses penyatuan minat. Ditambah dengan kecepatan penyebaran informasi secara viral di media sosial dalamcampaign ini, maka platform media sosial menjadi tools yang efektif dan efisien untuk menyatukan semua orang yang tidak sekedar menyukai produk Dr. Martens, namun juga memiliki gagasan dan nilai yang sama dengan brand, untuk stand out. Terlebih lagi, campaign ini melakukan empowerment dan menciptakan evangelist melalui media visual untuk memperkenalkan produk dan brand Dr. Martens kepada generasi berikutnya.

Kembali ke sejarahnya, boot Dr. Martens identik dengan ide anti-mainstream. Meskipun seiring perkembangannya Dr. Martens banyak dipakai berbagai kelompok, namun tidak semua orang mengenal atau menyukai produk Dr. Martens. Hal inilah yang membentuk eksklusivitas produk Dr. Martens sehingga membuat para penggunanya memiliki privilege saat memiliki ataupun memakainya. Sepatu boot yang khusus dibuat untuk mereka yang memiliki ide perlawanan yang sama. Seperti tertulis pada tagline campaign-nya: “Tribes are about bonds. A shared spirit, an attitude, an instinct.”

Dan demikianlah tribe Dr. Martens terbentuk.

So, are you ready to make you own tribes?

note: tulisan ini telah dimuat di Trenologi tanggal 27 Februari 2013.

Petisi Digital: Simbol Kemerdekaan Aspirasi

idea@work - Petisi Digital: Simbol Kemerdekaan Aspirasi. #blogpost
Petisi Digital: Simbol Kemerdekaan Aspirasi
idea@work - Petisi Digital: Simbol Kemerdekaan Aspirasi. #blogpost
Petisi Digital: Simbol Kemerdekaan Aspirasi.

Beberapa bulan ini timeline saya ramai dengan tweet atau post penyebaran petisi. Saya jadi kembali mengingat di tahun 2012, waktu itu timeline saya penuh dengan penyebaran petisi bertema KPK dan konflik Israel-Palestina. Salah satu yang mungkin juga dikenal oleh orang banyak  adalah petisi tuntutan untuk menyerahkan kasus dari Polisi kepada KPK yang digagas oleh Anita Wahid. Petisi dari anak almarhum Gus Dur ini menuai belasan ribu dukungan, belum lagi ditambah dukungan tidak langsung melalui hashtag #SaveKPK dan #PresidenKemana.
Juga ada juga petisi untuk menghentikan agresi militer Israel ke Palestina yang digagas oleh Faldo Maldini (melalui akun@FaldoMaldini) yang mencari 1.000.000 tanda tangan untuk menghentikan aksi militer Israel, yang ditujukan kepada presiden AS, Barrack Obama. Meskipun jauh dari angka yang diharapkan, petisi ini cukup banyak menuai dukungan masyarakat yang terlihat dari jumlah tanda tangan yang dikantongi hingga saat ini.

Berlanjut ke bulan Januari tahun 2013, ada 2 petisi yang menarik perhatian saya.Yang pertama adalah petisi oleh Ratna Sarumpaet, artis sekaligus aktivis perempuan dan HAM melalui akunnya@RatnaSpaet, yang menuntut pembubaran ormas Islam Front Pembela Islam (FPI), dengan judul petisi: Presiden RI-Susilo Bambang Yudhoyono: Bubarkan FPI Segera, yang telah menuai 10.579 tanda tangan. Petisi ini menjadi efektif karena di saat bersamaan, Ratna Sarumpaet juga meminta dukungan dari berbagai selebritis kenalannya yang memiliki ribuan sampai ratusan ribu followerseperti Afgan, Melly Goeslaw dan band Superman is Dead.

Berlanjut ke bulan Januari tahun 2013, ada 2 petisi yang menarik perhatian saya.Yang pertama adalah petisi oleh Ratna Sarumpaet, artis sekaligus aktivis perempuan dan HAM melalui akunnya@RatnaSpaet, yang menuntut pembubaran ormas Islam Front Pembela Islam (FPI), dengan judul petisi: Presiden RI-Susilo Bambang Yudhoyono: Bubarkan FPI Segera, yang telah menuai 10.579 tanda tangan. Petisi ini menjadi efektif karena di saat bersamaan, Ratna Sarumpaet juga meminta dukungan dari berbagai selebritis kenalannya yang memiliki ribuan sampai ratusan ribu followerseperti Afgan, Melly Goeslaw dan band Superman is Dead.

idea@work - Petisi Digital: Simbol Kemerdekaan Aspirasi. #blogpost
Petisi Digital: Simbol Kemerdekaan Aspirasi.

Petisi yang kedua adalah petisi yang dilayangkan oleh Melanie Subono yang, melalui akun Twitter-nya @melaniesubono, menolak pencalonan Daming Sunusi menjadi Hakim Agung Mahkamah Agung (MA) karena pernyataan kontroversial Daming saat fit and proper test di DPR. Hingga saat tulisan ini dibuat, petisi ini sudah mendulang dukungan dengan 11.027 tanda tangan.

Secara sosiologis, petisi adalah alat yang dapat digunakan untuk mempertanyakan ataupun menuntut sesuatu yang dianggap kurang tepat ataupun tidak sesuai secara sosial. Di negara dengan sistem demokrasi, dengan Amerika Serikat sebagai salah satu contohnya, petisi adalah sistem turunan yang digunakan sebagai alat untuk melakukan verifikasi konsensus sosial secara objektif, serta diatur oleh hukum dan undang-undang. Contoh kasus petisi yang cukup menarik perhatian dunia beberapa waktu lalu adalah petisi Texas untuk melepaskan diri dari Amerika Serikat saat Barack Obama terpilih kembali menjadi presiden, dan petisi untuk melarang peredaran senjata serbu yang disebabkan penyerbuan ke sebuah sekolah dasar di Sandy Hook oleh seorang pemuda yang depresi yang berakhir dengan tewasnya belasan orang.

Sementara dalam budaya Timur, yang relatif baru mengenal demokrasi dibandingkan budaya barat, sistem turunan untuk melakukan dialektika sosial ini masih menjadi barang baru. Terlebih lagi, nilai budaya ketimuran lebih menekankan pada “memahami” daripada “menerangkan”, yang dalam budaya Jawa dikenal dengan istilah “nrimo”. Hal ini membuat budaya penyebaran petisi di negara-negara Asia, termasuk Indonesia, tidaklah sesemarak di negara-negara Eropa dan Amerika Serikat.

Namun demikian, sejalan dengan berkembangnya demokrasi di Indonesia, saya mulai melihat perubahan dalam budaya dan tatanan sosial di negara ini. Munculnya beberapa contoh petisi di atas menyiratkan mulai pekanya masyarakat terhadap isu-isu sosial dan timbulnya kebutuhan untuk terlibat aktif dalam proses “dialog sosial” yang majemuk.

idea@work - Petisi Digital: Simbol Kemerdekaan Aspirasi. #blogpost
Petisi Digital: Simbol Kemerdekaan Aspirasi.

Dalam hal lainnya, Indonesia termasuk salah satu negara di Asia yang perkembangan teknologi dan media sosial-nya berlangsung pesat. Saat ini pun, di Indonesia telah terjadi penetrasi situs yang menyediakan platformpembuatan petisi dan pengumpulan tanda tangan.

Ada change.org dan causes.com yang sudah terintegrasi secara seamless dengan Facebook dan Twitter, lalu ada signOn.orgthepetitionsite.com dan bermacam lainnya. Untuk yang berbayar pilihannya ada democracyinaction.org atau nationbuilder.com yang juga mencakup layanan advokasi. Atau buat yang memiliki dana cukup besar, dengan nilai sekitar $1000 setiap bulan, pilihannya ada blackbaud.com atau convio.com. Melimpahnya platform ini bisa dilihat sebagai kesempatan besar untuk mereka yang mau terlibat dalam menentukan tatanan sosial Indonesia di masa yang akan datang.

Nah, setelah tahu latar dan cara kerja sebuah petisi, tertarikkah kita untuk turut berperan serta dalam bagian tatanan demokrasi ini?

Saat ini banyak masalah sosial yang bisa kita tarik ke permukaan. Contohnya: tuntutan penghentian penebangan pohon di kawasan resapan air, tuntutan hukum yang lebih keras terhadap pelaku kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur, tuntutan hukuman kurungan seumur hidup untuk koruptor, dan lain sebagainya.

Menurut saya, daripada hanya jadi obrolan di warung kopi, gosip di dunia maya, atau, yang terburuk, jadi kabar burung dan simpang-siur, lebih baik kita kumpulkan keberanian, buat petisinya, lalu galang dukungannya. Selama hal tersebut mengarah untuk kehidupan yang lebih baik dan lebih positif, rasa-rasanya tidak ada alasan untuk tidak mengangkat isu-isu tersebut ke permukaan dan turut serta dalam dialog bangsa ini. Jadi, yuk buat petisimu untuk Indonesia yang lebih baik!

note: tulisan ini telah dimuat di Trenologi tanggal 20 Februari 2013.