Meme sebagai Alat Pemasaran

Untuk pengguna sosial media yang aktif, pasti mengetahui fenomena yang disebut meme. Meme adalah ide, perilaku, atau gaya yang menyebar dari satu orang ke orang lain dalam sebuah budaya. Meme merupakan neologisme yang diciptakan oleh Richard Dawkins.
Meme dapat berupa gagasan, ide, teori, penerapan, kebiasaan, lagu, tarian dan bahkan suasana hati. Yang menarik dari meme adalah ia dapat replikasi dengan sendirinya (dalam bentuk peniruan) dan membentuk suatu budaya.

Meme yang ditularkan atau direplikasi dapat membentuk kebiasaan seseorang. Sebagai contoh fenomena permainan fidget spinner atau kebiasaan ‘dab’. Kebiasaan ini pada akhirnya memengaruhi banyak orang pada kehidupan biasa.

Menurut Schubert, Karen (2003) secara khusus menjelaskan meme internet adalah aktivitas, konsep, slogan atau media yang menyebar, sering sebagai mimikri atau untuk tujuan lucu, dari orang ke orang melalui internet.

Adapun, Teori Interaksi Simbolik merupakan teori yang memiliki asumsi bahwa manusia membentuk makna melalui proses komunikasi. Teori interaksi simbolik berfokus pada pentingnya konsep diri dan persepsi yang dimiliki individu berdasarkan interaksi dengan individu lain.

Menurut Herbert Blumer, terdapat tiga asumsi dari teori ini: (a) Manusia bertindak berdasarkan makna yang diberikan orang lain kepada mereka; (b) Makna diciptakan dalam interaksi antar manusia; dan (c) Makna dimodifikasi melalui interpretasi.

Saat ini public relations, advertising dan para pelaku marketing menggunakan meme internet sebagai strategi pemasaran agar konten yang mereka buat menjadi ‘viral’ dan akhirnya dapat menciptakan ‘buzz’ untuk pemasaran produk atau service mereka.Saat ini public relations, advertising, dan marketing profesional menggunakan meme internet sebagai bentuk pemasaran ‘viral’ dan pemasaran ‘gerilya’ untuk menciptakan “buzz” pemasaran untuk produk atau layanan mereka.

Salah satu contoh penggunaan meme sebagai alat pemasaran adalah ketika HipChat memasang billboard di San Fransisco dengan gambar “Y U NO” meme. Pengguna internet aktif yang sering terpapar dengan meme pasti akan langsung paham maksud dan tujuan dari iklan ini. Maksudnya adalah agar menggunakan HipChat. Selain dapat menyampaikan maksud dari sebuah iklan dengan mudah, billboard ini juga menjadi viral dan disebarkan dengan Word Of Mouth oleh orang-orang yang melihatnya. Search traffic untuk iklan billboard ini pun naik sebanyak 300% .

Untuk memahami cara menggunakan meme sebagai alat pemasaran, kita bisa mengikuti cara-cara ini:

1. Pelajari Bahasa Meme
Hire seseorang yang mengerti dan paham dengan meme dan media sosial atau rajin memperhatikan timeline Instagram, Facebook dan Twitter Anda.

2. Naikkan Tingkat Daya Sebar Konten
Jangan lupa gunakan hashtag-hastag yang relevan, jawab komentar-komentar dari followers atau audiens dan dorong mereka untuk tag teman-teman mereka.

3. Tepat Waktu
Kultur Meme berubah sangat cepat sesuai dengan peristiwa-peristiwa yang sedang terjadi saat ini mulai dari politik, hiburan dan bahkan olahraga.

Keywords yang Paling Sering Dicari di Google selama 2017

Tidak ada kata-kata yang dapat menggambarkan tahun 2017. Sulit untuk memahami bagaimana mungkin segala sesuatu terjadi tahun ini dan hanya dalam 12 bulan kalender, dari politik hingga hiburan hingga fenomena cuaca dan tragedi global, semuanya terjadi begitu cepat dan terkadang sulit diduga, kita semua memiliki perasaan terhadap setiap kejadian dan setiap peristiwa yang mempengaruhi kehidupan kita. Apa cara yang lebih baik, lalu, untuk mengetahui tahun itu dengan memeriksa kata-kata yang paling banyak kita telusuri di internet?

Itu adalah alasan dibalik pembuatan laporan pencarian keywords Google’s annual year, dengan memeriksa semua data yang telah dikumpulkan disepanjang tahun 2017 selama 365 hari.Disinilah kamu akan mengetahui bahwa selama 2017 adalah tahun dimana kata “bagaimana“ lebih sering digunakan daripada kata apapun. Silahkan cek beberapa keywords dibawah ini yang mungkin bisa menambah wawasanmu tentang hal-hal terkini.

1. 10 Hal yang paling sering dicari pada Google 2017
• Hurricane Irma
• Matt Lauer
• Tom Petty
• Super Bowl
• Las Vegas shooting
• Mayweather vs. McGregor fight
• Solar eclipse
• Hurricane Harvey
• Aaron Hernandez
• Fidget spinner

2. 10 Orang yang paling sering dicari pada Google 2017

• Matt Lauer
• Meghan Markle
• Harvey Weinstein
• Michael Flynn
• Kevin Spacey
• Bill O’Reilly
• Melania Trump
• Kathy Griffin
• Milo Yiannopoulos
• Gal Gadot

3. 10 Hal terbaru yang paling sering dicari pada Google 2017

• Hurricane Irma
• Las Vegas shooting
• Solar eclipse
• Hurricane Harvey
• Bitcoin price
• North Korea
• Hurricane Jose
• Hurricane Maria
• April the giraffe
• DACA

4. 10 “How to…..” yang paling sering dicari di Google 2017

• How to make slime
• How to make solar eclipse glasses
• How to watch the solar eclipse
• How to watch Mayweather vs. McGregor
• How to buy bitcoin
• How to freeze your credit
• How to solve a Rubik’s Cube
• How to make a fidget spinner
• How to cook a turkey in the oven
• How to screen record

5. 10 TV Show yang paling sering dicari di Google 2017

• 13 Reasons Why
• Game of Thrones
• This Is Us
• Iron Fist
• Riverdale
• Bachelor in Paradise
• The Good Doctor
• Santa Clarita Diet
• Big Little Lies
• American Gods

6. 10 Gadgets yang paling sering dicari di Google 2017

• iPhone 8
• iPhone X
• Nintendo Switch
• Samsung Galaxy S8
• Razer Phone
• iPhone 8 Plus
• Super NES Classic
• Google Pixel 2
• Apple Watch 3
• Samsung Galaxy Note 8

Multitasking: Apakah Efektif?

Multitasking adalah sesuatu yang harus menjadi keahlian seorang wanita, katanya. Seorang pegawai menjawab email sambil rapat, atau diantara kegiatan seperti memposting sesuatu dan menjawab pertanyaan di sosial media dan membuat report setelahnya, dan terus seperti itu. Mungkin kamu sebenarnya bukan melakukan multitasking melainkan task-switching. Ya, mereka melakukan suatu hal lalu melakukan hal yang lain tanpa menyelesaikan hal yang mereka lakukan sebelumnya. Apakah hal tersebut efektif?

Apakah multitasking meningkatkan produktifitas?

Banyak orang menganggap bahwa multitasking dapat meningkatkan produktifitas seseorang. Jadi, menjawab email sambil rapat, atau diantara kegiatan seperti memposting sesuatu dan menjawab pertanyaan di sosial media dan membuat report setelahnya membuatmu menjadi lebih produktif? Tidak juga.

Satu riset yang dilaporkan dalam Journal of Experimental Psychology menemukan bahwa siswa menghabiskan lebih banyak waktu untuk memecahkan masalah matematika yang rumit bila diminta untuk beralih ke tugas lain. Sebenarnya, mereka 40 persen lebih lambat dari mereka yang tidak melakukan task-switching.

Kerugian melakukan multitasking.

Kamu mungkin akan berpikir bahwa “Saya sudah berlatih melakukan multitasking sekian lama, pasti Saya akan ahli dalam melakukan hal tersebut”. Tapi nyatanya tidak. Sementara beberapa penelitian mendukung kelemahan melakukan multitasking, berikut beberapa alasan yang masuk akal bahwa multitasking tidak berfungsi untuk bisnis:

1. Kualitas kerjamu bisa terancam
Jika Kamu mengerjakan dua hal sekaligus, Kamu tidak bisa fokus pada satu hal. Dengan fokus terbatas, Kamu pasti akan membuat kesalahan. Misalnya, jika Kamu mencoba memecahkan masalah untuk klien saat mengajukan dokumen, Kamu tidak akan melakukannya dengan benar karena Kamu tidak benar-benar berfokus pada salah satu tugas.

2. Fokus terbatas
Karena Kamu mencoba mengerjakan beberapa tugas, Kamu mungkin terburu-buru melewatinya. Dengan berfokus pada setiap tugas secara terpisah, Kamu lebih cenderung mengerjakan tugas masing-masing dengan total.

3. Kurang produktivitas
Pada akhirnya, mencoba multitasking mengancam produktivitasmu. Otakmu tidak bisa mengerjakan beberapa tugas sekaligus secara efisien. Cobalah menerapkan “singletasking” sebagai gantinya.

Jadi menurutmu, multitasking itu bagus atau tidak untuk dilakukan?

Status Pelarangan Bitcoins di Indonesia

Otoritas moneter Indonesia akan mengeluarkan aturan untuk melarang penggunaan Bitcoins atau mata uang virtual di Indonesia sebagai alat pembayaran virtual maupun offline. Bank Indonesia (BI) mengeluarkan pelarangan yang ditujukan bagi pelaku layanan keuangan berbasis teknologi termasuk e-commerce. Dalam konteks ini Bitcoins bukanlah alat pembayaran yang sah.

Menurut Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo hal ini terangkum dalam Pasal 34 beleid itu menyebut, “Penyelenggara Jasa Sistem Pembayaran dilarang: (a) melakukan pemrosesan transaksi pembayaran dengan mengunakan virtual currency.”
Bagian keterangannya disebutkan virtual currency adalah uang digital yang diterbitkan selain otoritas moneter yang diperoleh dengan cara mining. Antara lain Bitcoin, BlackCoin, Dash, Degecoin, Litecoin, Namecoin, Nxt, Peercoin, Primecoin, Ripple, dan Ven.

Gubernur Bank Indonesia Agus Martowardojo menyebutkan alasan melarang adalah dalam rangka melaksanakan prinsip kehati-hatian, menjaga persaingan usaha, pengendalian risiko, dan perlindungan konsumen.

Larangan mengenai penyelenggaraan teknologi finansial dan e-commerce termasuk penyelenggaraan sistem pembayaran menggunakan dan memproses virtual currency, serta siapapum pihak yang menfasilitasi transaksi menggunakan virtual currency tersebut.

Pelarangan itu, lanjut Agus, guna mencegah kejahatan, seperti pencucian uang, pendanaan terorisme, dan menjaga kedaulatan rupiah sebagai alat pembayaran yang sah di Indonesia.

Alasan yang diungkapkan Agus punya dasar. Pada 2013 pendiri situs Silk Road, Ross Ulbricht ditangkap aparat Amerika karena situsnya ketahuan lebih pada jual beli narkoba daripada menjual bitcoin.

Fakta-Fakta Mengenai Bitcoins.

1. Bitcoin adalah mata uang virtual yang hanya ada di internet dan bisa digunakan sebagai alat pembayaran di tempat-tempat tertentu. Tidak semua penyedia jasa atau barang menerima pembayaran bitcoin.

2. Bitcoin bisa diperoleh dengan cara jual beli. Juga lewat aplikasi Bitcoin Miner yakni menggali bitcoin dengan cara menguraikan rumus matematika kompleks yang ada di sana melalui jawaban 64 digit yang rumit.

3. Bitcoin kemudian disimpan dalam dompet digital yang menyerupai internet banking. Akun atau alamat dompet Bitcoin di internet tidak menggunakan nama asli sehingga sulit dilacak pemiliknya.

4. Tidak ada otoritas pusat atau negara yang mengatur bitcoin sehingga rekeningnya tidak bisa dibekukan. Demikain juga uang atau isi rekening pada dompet bitcoin tidak ada yang menjamin.

sumber
http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-42265038