Klasifikasi Generasi: Beberapa Hal yang Seringkali Tidak Dipahami (Bagian 2)

Minggu lalu kita sudah membahas setidaknya empat kategori generasi. Kali ini, kita akan membahas kategori generasi yang tergolong sebagai generasi pasca Perang Dunia. Kategori generasi pasca Perang Dunia inilah yang seringkali dianalisis potensinya karena dianggap masih relevan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di era sekarang. Mau tahu apa saja kategorinya? Simak, yuk!

1. Baby Boomer Generation

Juga dikenal dengan bentuk jamaknya, Baby Boomers, merupakan generasi yang lahir di periode pasca Perang Dunia II. Nama baby boomer diambil dari fenomena meningkatnya angka kelahiran pasca Perang Dunia II. Generasi ini lahir di antara tahun 1946 – 1964 dan saat ini diperkirakan berada dalam usia 70 tahunan. Baby Boomer Generation dianggap sebagai generasi yang membantu meningkatkan perekonomian dunia pasca periode Great Depression karena perilaku konsumtif mereka. Perang DIngin dan Perang Vietnam merupakan dua peristiwa besar yang dialami generasi ini ketika mereka tumbuh. Di Amerika Serikat, generasi ini familiar dengan gaya hidup Beat Generation (sekelompok penulis yang fokus karyanya berada di sekitar perkembangan kebudayaan serta politik Amerika Serikat pasca Perang Dunia II) yang lahir sekitar satu dekade sebelumnya. Generasi ini juga menunjukkan gejala-gejala perilaku yang akan dominan pada generasi berikutnya, yaitu Generation X. Beberapa negara seperti India dan Indonesia juga identik dengan penamaan generasi di periode ini namun dengan nama yang berbeda, yaitu Generasi Pasca Kemerdekaan.

2. Generation X

Generasi ini sebenarnya juga beririsan dengan istilah Baby Bust yang berarti penurunan drastis dalam hal tingkat kelahiran (lawan dari Baby Boomer). Meskipun beririsan (periode lahir Generation X pada 1960 – 1966 sementara Baby Bust di tahun 1967 – 1979), pembahasan generasi Baby Bust tidak sedominan Generation X. Hal ini berkaitan dengan lebih dominannya pembahasan counterculture yang terjadi pada Generation X ketimbang pembahasan berkaitan dengan menurunnya tingkat kelahiran dalam pengertian generasi Baby Bust. Istilah Generation X atau Gen X juga populer digunakan di negara Asia seperti Filipina. Pada periode lahir yang beririsan dengan Gen X dan Baby Bust, terdapat sebutan generasi lain seperti Generation Jones yang populer di negara-negara berbahasa Inggris. Istilah ini juga digunakan untuk menyebut generasi yang lahir di antara periode akhir Baby Boomer Generation dan periode awal Gen X. Secara umum, periode lahir Generation X berada pada awal hingga pertengahan 1960-an sampai akhir 1970-an hingga awal 1980-an.

3. Xennials

Sebutan untuk generasi ini memang tidak sepopuler Generation X ataupun Generation Y, tetapi generasi ini dianggap sebagai penghubung antara kedua generasi tersebut (lahir di periode 1975/1977 – 1985/1987). Xennials dianggap mewakili periode akhir Generation X dan periode awal Generation Y dengan karakteristik yang merupakan penggabungan antara sifat pesimistik Generation X dan optimistik Generation Y.

4. Millennials

Generasi ini dikenal dengan nama Generation Y, sebagai lanjutan dari Generation X. Periode lahir generasi ini diperkirakan ada di sekitar awal hingga pertengahan 1980-an sampai 1995 atau awal 2000-an. Pada tahun 2016 di Amerika Serikat, jumlah populasi Millennials melampaui Baby Boomer Generation dengan perkiraan sejumlah 77 juta jiwa. Millennials seringkali juga disebut dengan istilah Echo Boomers, dalam artian mereka merupakan generasi yang merupakan keturunan langsung dari Baby Boomer Generation. Generasi ini merupakan generasi yang tentunya berada di usia yang tidak jauh dari generasi muda saat ini, selain itu, Millennials juga merupakan generasi yang identik dengan kedekatannya pada perkembangan teknologi informasi, media komunikasi, serta teknologi digital. Generasi ini juga merupakan generasi yang mengalami imbas Great Recession di akhir tahun 2000-an hingga awal 2010-an. Di negara lain, Millennials memiliki sebutan lain seperti Independence Generation (Armenia), 9X Generation (Vietnam), Strawberry Generation (Taiwan), hingga Generasi Reformasi/Pasca Reformasi di Indonesia.

Artikel ini masih akan berlanjut sampai minggu depan, kira-kira ada istilah generasi apalagi sih? Nantikan dan simak di artikel mendatang, ya!

Sumber:

https://www.careerplanner.com/Career-Articles/Generations.cfm

https://en.wikipedia.org/wiki/Generation

https://en.wikipedia.org/wiki/Baby_boomers

https://en.wikipedia.org/wiki/Beat_Generation

https://en.wikipedia.org/wiki/Generation_Jones

http://www.huffingtonpost.ca/2017/06/28/xennials_a_23006562/

https://en.wikipedia.org/wiki/Millennials

https://en.wikipedia.org/wiki/Great_Recession

 

Klasifikasi Generasi: Beberapa Hal yang Seringkali Tidak Dipahami (Bagian 1)

Sering mendengar istilah Millenials atau Generation Y? Bagaimana dengan Baby Boomer Generation dan Baby Bust (atau Generation X)? Belakangan ini, cukup banyak artikel yang membahas karakteristik generasi dan kamu juga mungkin termasuk salah satu orang yang suka membahas hal tersebut. Artikel kali ini akan membahas fakta-fakta berkaitan dengan klasifikasi dan karakteristik generasi secara singkat. Selain untuk menambah pengetahuan kamu, artikel kali ini juga berupaya untuk menekankan bahwa klasifikasi dan karakteristik generasi ini tidak bisa sepenuhnya kamu aplikasikan untuk men-judge diri kamu apalagi orang lain.

Beberapa minggu lalu kita sempat membahas generasi internet atau iGen serta bagaimana generasi tersebut harus berhadapan dengan kondisi extreme present. Nah, berkaitan dengan generasi internet, sebenarnya klasifikasi generasi tersebut bisa saja bersifat global karena adanya teknologi internet, tapi apakah kamu tahu bahwa klasifikasi generasi-generasi sebelumnya seperti Generation Y hingga Baby Boomer Generation sebenarnya belum tentu bersifat global? Beberapa sumber memang menyebutkan bahwa klasifikasi generasi diupayakan untuk bersifat se-general mungkin, tetapi sebenarnya fokus klasifikasi tersebut tetap berada pada lingkup wilayah Western World (Amerika, Eropa, dan Australia). Lalu bagaimana dengan kita yang tinggal di Asia? Meskipun terdapat beberapa poin yang cukup beririsan, lingkup Asia, sebagian Eropa, hingga Afrika sebenarnya memiliki indikator lain yang tentunya berbeda dengan karakteristik Barat. Jadi, setidaknya kamu cukup memahami bahwa klasifikasi generasi yang sering kita baca di jurnal ataupun artikel-artikel itu belum tentu sepenuhnya valid untuk orang-orang di luar Barat, salah satunya kita di Indonesia.

Berikut ini beberapa kategori generasi beserta karakteristik dan sejarahnya:

1. The Lost Generation

Di Eropa, generasi ini juga dikenal sebagai Generation of 1914. Istilah tersebut dipopulerkan oleh Gertrude Stein yang merupakan seorang novelis dan penyair, namun lebih dikenal sebagai seorang kolektor seni. Generasi ini merupakan generasi yang ikut terlibat dalam Perang Dunia I dan diperkirakan lahir di antara periode 1883 – 1900.

2. The Interbellum Generation

Generasi ini merupakan generasi dengan periode lahir antara 1901 – 1913. Generasi ini merupakan generasi yang dianggap terlalu muda untuk terlibat dalam Perang Dunia I, namun terlalu tua untuk terlibat dalam Perang Dunia II. Keterkaitannya dengan dua periode Perang Dunia inilah yang kemudian memunculkan istilah Interbellum yang diambil dari Bahasa Latin (Inter yang berarti ‘berada di antara’ dan bellum yang berarti ‘perang’).

3. The Greatest Generation

Memiliki sebutan lain seperti WWII Generation (World War II Generation), G.I. Generation (dari istilah militer G.I. yang merupakan singkatan dari General Issue atau Government Issue), dan Federation Generation di Australia, nama The Greatest Generation merupakan sebutan umum yang digunakan di Amerika Serikat. Generasi ini merupakan generasi yang tumbuh dewasa di periode Great Depression (periode resesi ekonomi dunia di sekitar tahun 1930-an) dan kemudian terlibat dalam Perang Dunia II. Periode lahir generasi ini di antara tahun 1910 – 1924.

4. The Silent Generation

Istilah Silent Generation pertama kali muncul di majalah Time pada 5 November 1951 dalam sebuah artikel berjudul Younger Generation. Generasi ini merupakan generasi lanjutan The Greatest Generation atau G.I. Generation yang dianggap terlalu takut untuk mengemukakan pendapatnya dan lebih memilih untuk fokus membangun karier ketimbang terlibat dalam bentuk-bentuk aktivisme. Generasi ini juga merupakan generasi yang tumbuh ketika terjadi Perang Korea (25 Juni 1950 – 27 Juli 1953) dimana Korea Utara berupaya untuk menginvasi Korea Selatan. Sebelumnya, Korea dikuasai oleh Jepang sejak 1910 hingga penghujung Perang Dunia II. The Silent Generation juga disebut sebagai Lucky Few dalam buku yang ditulis oleh Elwood Carlson berjudul The Lucky Few: Between the Greatest Generation and the Baby Boom (2008). Generasi ini lahir pada periode 1925 – 1945.

Bagaimana dengan Baby Boomer Generation hingga Generation Z atau iGen, dan bahkan Gen Alpha? Pantau terus artikel kita di minggu depan ya!

Sumber:

https://www.careerplanner.com/Career-Articles/Generations.cfm

https://en.wikipedia.org/wiki/Generation

https://en.wikipedia.org/wiki/Interbellum_Generation

https://en.wikipedia.org/wiki/G.I._Generation

https://en.wikipedia.org/wiki/Great_Depression

https://en.wikipedia.org/wiki/Silent_Generation

https://en.wikipedia.org/wiki/Korean_War

 

Menarik Audiens dengan Headline

Apa sih yang mendasari kamu mau meng-klik sebuah artikel atau informasi pada platform media sosial? Apakah topik pembahasannya, image-nya atau konten itu sendiri? Jawabannya mungkin benar semua. Namun, ada satu hal utama yang mungkin terlewatkan olehmu. Headline! Yup, headline ini juga berperan besar memicu rasa penasaran audiens untuk menyimak suatu informasi, lho. Headline bertujuan bukan hanya untuk membuat sebuah posting-an menjadi shareable, tapi juga mampu membuatnya viral.

Kali ini kami akan mengajak kamu untuk menyimak apa saja tips-tips agar konten kamu tepat agar dapat meningkatkan traffic website.

Pertama

Gunakan angka. Mengapa angka? Percaya atau tidak, penggunaan angka diantara kalimat akan memberikan pengaruh yang signifikan pada otak. Otak akan menstimulasi lebih cepat ketika dihadapkan dengan angka-angka.

Ada catatan nih untuk kamu. Menurut penelitian ContentMarketingInstitut.com, otak kita memercayai kalau angka ganjil itu memiliki efektivitas yang lebih ampuh dan mudah untuk diingat dan dicerna.

Kedua

Jangan membuat headline lebih dari 62 karakter, karena mesin pencarian seperti Google cenderung akan memotong headline kamu yang berdampak pada rendahnya konversi jumlah audiens dalam jangka panjang.

Pastikan juga, apa benefit yang audiens kamu dapatkan dengan membaca artikel kamu dengan hanya melihat headline. Sekadar saran, kosakata yang paling umum digunakan untuk membuat viral sebuah headline adalah Tips, Reason, Trick, Idea, Fact, Strategy, Secret.

Ketiga

Jenis konten pada headline juga merupakan aspek penting lainnya. Hal ini bertujuan agar ekspektasi audiens kamu sesuai dengan apa yang mereka klik.

Bisa kita lihat pada analisis di atas, jenis konten Pictures efektif pada platform Facebook, namun tidak pada Twitter dan LinkedIn. Sebaliknya, konten bernuansa Tips, Habits, Mistakes justru lebih efektif pada LinkedIn.

Pada umumnya audiens akan melihat dan tentu tidak mengabaikan headline yang kamu buat. Hanya saja, keputusan audiens untuk terus membaca konten hingga akhir memang sangat dipengaruhi oleh headline di awal. Jadi bagaimana? Sudah menyiapkan headline terbaik kamu, belum?

Media, Propaganda, dan Generasi Muda

Dirgahayu Republik Indonesia yang ke-72! Semoga perjuangan untuk meraih kemerdekaan di masa lalu tidak kita sia-siakan dengan bermalas-malasan saja, ya. Berkaitan dengan hari kemerdekaan, kali ini kita akan membahas isu yang sedikit banyak berkaitan dengan hal tersebut. Setelah sebelumnya kita membahas tentang worldview generasi internet yang dipengaruhi oleh teknologi filter bubble, kali ini kita akan membahas tentang media, propaganda, dan generasi muda. Mengapa ketiganya bisa saling berkaitan? Dan apa kaitannya dengan Hari Kemerdekaan kita?

Media, seperti yang kita ketahui, merupakan sebuah alat ataupun metode untuk menyampaikan dan menyebarkan informasi. Dalam perkembangannya, media informasi yang kita konsumsi atau manfaatkan tentunya mengalami banyak sekali perubahan, terutama dari sisi teknologi. Di masa lalu, media informasi yang dimanfaatkan berupa media cetak seperti koran dan majalah, lalu muncul radio, televisi, hingga kini kita mengenal internet. Nah, bicara mengenai perjuangan pahlawan-pahlawan kita untuk meraih kemerdekaan 72 tahun yang lalu, tahukah kamu bahwa media tidak hanya digunakan untuk sekadar memberi informasi, tetapi juga dimanfaatkan sebagai alat propaganda? Tenang saja, kita tidak akan membahas media sebagai alat propaganda perang, tetapi setidaknya kita menyadari peran penting media bagi perubahan ataupun revolusi yang terjadi dalam suatu negara. Selain koran, kita tentunya juga mengenal istilah poster, salah satu media cetak yang juga dimanfaatkan oleh beberapa seniman Indonesia di masa kolonial untuk membangkitkan semangat para pejuang. Saat ini, kita mengenal poster sebagai media publikasi acara ataupun upaya branding sebuah produk. Di masa lalu, poster berperan penting untuk membuat revolusi, lho.

Ada yang tahu siapa seniman yang membuat poster revolusi di atas? Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa poster yang dibuat di tahun 1945 tersebut merupakan hasil kolaborasi antara sastrawan Chairil Anwar (yang membuat teks) dengan perupa S. Sudjojono, Affandi, dan Dullah. Tak hanya di Indonesia, poster memang seringkali dimanfaatkan oleh banyak negara di era Perang Dunia, lho. Nah, ketika kata ‘media’ sudah bersatu dengan istilah propaganda (baca: media propaganda), lantas apakah media tersebut bisa dianggap berbahaya atau berkonotasi negatif? Di era internet saat ini, lalu lintas informasi tentunya sudah jauh lebih cepat jika dibandingkan dengan era revolusi di tahun 1945. Persebaran informasi tidak hanya dilakukan melalui media cetak seperti koran dan poster, tetapi sudah memanfaatkan teknologi digital. Hal ini yang kemudian harus kita, terutama generasi muda, pahami agar dapat lebih bijak dalam mengolah informasi-informasi yang kita terima. Siapa bilang propaganda telah berhenti dilakukan setelah kita merdeka? Atau setelah era Perang Dunia? Di masa kini, propaganda tetap banyak dilakukan, baik dengan tujuan politik maupun tujuan komersil.

Dalam sebuah artikel yang ditulis oleh Johnie Manzaria dan Jonathon Bruck berjudul Media’s Use of Propaganda to Persuade People’s Attitude, Beliefs and Behaviors menyebut istilah Dune Affect (terinspirasi oleh film berjudul Dune), yaitu sebuah pemahaman bahwa siapapun yang memiliki kontrol dan akses terhadap media maka ia atau mereka juga berpotensi untuk mengontrol pendapat publik. Artikel tersebut juga mengutip pendapat seorang ahli di bidang influence, Robert Cialdini, yang mengungkapkan bahwa orang-orang yang hidup di dunia yang kompleks dan bergerak cepat akan cenderung memilih jalan pintas untuk memperoleh informasi. Jalan pintas yang membuat kita sudah terlebih dahulu menyimpulkan sesuatu tanpa melakukan riset ataupun pengecekan ulang. Kita seolah tidak punya waktu untuk memastikan kebenaran suatu berita ataupun informasi.

Bagaimana kaitannya dengan generasi muda saat ini yang tidak hanya disibukkan dengan ragam informasi melalui media-media berita di internet tetapi juga oleh media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram? Sebuah artikel berjudul Influence of Social Media on Teenagers (2016) yang ditulis oleh Suren Ramasubbu untuk blog Huffington Post, mengungkapkan bahwa generasi muda, terutama para remaja, berpotensi atau bahkan pernah mengalami depresi, aktivitas sexting, hingga cyberbullying dalam media sosial. Survey yang kemudian dia ungkapkan setidaknya menunjukkan bahaya media sosial bagi pengguna yang ‘belum dewasa’ dan oleh karenanya, penting untuk memantau ataupun memberi edukasi berkaitan dengan penggunaan media sosial bagi mereka, para calon pembentuk dunia di masa depan.

Media, propaganda, dan generasi muda. Begitulah sekiranya gambaran keterkaitan diantara ketiganya, mudah-mudahan bisa menjadi bahan pemikiran untuk kalian yang sedang berupaya untuk memberi kontribusi bagi Negara ini, ya.

Sumber:

http://jejaktamboen.blogspot.co.id/2012/12/sejarah-peran-seniman-pada-masa-perjuangan-kemerdekaan.htmlhttps://www.ted.com/talks/eli_pariser_beware_online_filter_bubbles#t-134523

https://web.stanford.edu/class/e297c/war_peace/media/hpropaganda.html

http://www.huffingtonpost.com/suren-ramasubbu/influence-of-social-media-on-teenagers_b_7427740.html

Filter Bubble dan Worldview Generasi Internet

Apakah kalian pernah menyadari mengapa ads atau iklan yang muncul bisa relate dengan selera kita ketika kita sedang browsing internet ataupun media sosial tertentu? Algoritma yang diciptakan untuk membuat ads seolah ‘dekat’ dan berkaitan dengan selera pengguna internet ini seringkali disebut filter bubble. Istilah filter bubble dikemukakan oleh seorang CEO media berita dan hiburan, Upworthy, Eli Pariser. Pariser mengungkapkan bahwa algoritma dalam filter bubble memungkinkan pengguna internet untuk memperoleh informasi, iklan, hingga suggested search yang dibuat seakan menjadi sangat personal. Ia kemudian menyebut fenomena ini sebagai sebuah personal ecosystem. Berapa banyak diantara kalian yang merasa diuntungkan dengan hadirnya filter bubble?

Nah, teknologi filter bubble dan fenomena personal ecosystem ini masih berkaitan dengan pembahasan kita di minggu lalu. Hans Ulrich Obrist, yang mengungkapkan bahwa generasi yang tumbuh dengan internet berpotensi mengalami kondisi extreme present, juga mengiyakan pernyataan Eli Pariser yang menyebut teknologi filter bubble berperan dalam penyempitan worldview (wawasan atau pandangan dunia) seorang individu pengguna internet. Obrist bahkan membuat sebuah proyek penelitian bernama 89plus yang berupaya untuk memberi gambaran pada publik berkaitan dengan pengaruh filter bubble terhadap pandangan dunia generasi internet (seringkali juga disebut Generation Z atau iGen). Baik Obrist maupun Pariser, keduanya mengungkapkan bahwa filter bubble bisa berpotensi buruk apabila pengguna internet tidak menyadari bahwa kemudahan-kemudahan yang mereka peroleh melalui teknologi tersebut bisa mempengaruhi keinginan mereka untuk mengakses informasi yang lebih luas. Ketika dimudahkan dengan munculnya informasi yang berkaitan dengan selera ataupun kesukaan kita, kita bisa saja terjebak untuk browsing internet di wilayah yang itu-itu saja. Hal tersebut sedikit demi sedikit bisa mengikis keinginan generasi internet untuk mengeksplorasi lebih luas atau lebih jauh dari selera mereka sendiri.

Pemanfaatan teknologi filter bubble juga setidaknya bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan mengapa generasi internet, secara psikologis, berpotensi mengalami stres hingga depresi. Dengan worldview yang menyempit akibat filter bubble, generasi internet sangat rentan untuk menjadi seseorang yang individualistik dan seolah hanya sibuk dengan dirinya sendiri. Namun, perlu diingat bahwa hal-hal negatif yang diungkapkan di atas bisa saja dihindari apabila kita, sebagai pengguna internet, dapat lebih bijak lagi dalam mengakses banyaknya informasi yang tersedia dalam dunia online atau internet.

Bagaimana? Seperti halnya berbagai informasi yang perlu kita cek terlebih dahulu kebenarannya sebelum kita percayai, iklan-iklan ataupun informasi yang kita peroleh melalui teknologi filter bubble di internet pun perlu kita saring dengan lebih bijak lagi, ya.

Sumber:

 

https://en.wikipedia.org/wiki/Filter_bubble

http://www.upworthy.com/

https://www.ted.com